Infobandungnews – Wakil Ketua DPRD Kabupaten Bandung, M.A. Hailuki, memberikan perhatian serius terhadap insiden robohnya plafon ruang kelas di SMKN 1 Soreang yang mengakibatkan beberapa siswa terluka. Ia mendesak Dinas Pendidikan Jawa Barat agar terbuka mengenai pihak kontraktor dan pengawas proyek pembangunan gedung tersebut.
Menurut Hailuki, bangunan ruang kelas yang baru digunakan sekitar enam bulan itu seharusnya masih berada dalam masa pemeliharaan, sehingga pihak pelaksana proyek wajib bertanggung jawab atas insiden yang terjadi.
Ia menegaskan, kejadian tersebut tidak boleh dianggap sekadar musibah tanpa ada evaluasi dan pertanggungjawaban yang jelas. Transparansi mengenai pelaksana proyek menjadi penting agar masyarakat mengetahui siapa yang bertanggung jawab atas kualitas pembangunan ruang kelas tersebut.
Selain menuntut perbaikan total pada bagian plafon yang roboh, Hailuki juga meminta agar pihak kontraktor menanggung seluruh biaya pengobatan siswa yang menjadi korban. Menurutnya, keselamatan peserta didik harus menjadi prioritas utama dan tidak boleh diabaikan.
Politisi Partai Demokrat itu juga meminta Inspektorat segera melakukan audit forensik terhadap proyek pembangunan ruang kelas tersebut. Langkah ini dinilai penting untuk memastikan mutu konstruksi bangunan serta mencegah kejadian serupa terulang pada fasilitas pendidikan lainnya.
Ia menilai insiden ini harus menjadi bahan evaluasi menyeluruh terhadap pengawasan proyek pembangunan sarana pendidikan, khususnya yang bersumber dari anggaran pemerintah. Menurutnya, kualitas pembangunan sekolah tidak hanya berkaitan dengan infrastruktur, tetapi juga menyangkut keselamatan siswa serta kepercayaan masyarakat terhadap pengelolaan anggaran pendidikan.
Hailuki menegaskan bahwa sekolah harus menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi siswa untuk belajar, bukan justru menghadirkan ancaman keselamatan akibat lemahnya kualitas proyek maupun pengawasan.
Sebelumnya, plafon di dua ruang kelas SMKN 1 Soreang roboh saat kegiatan belajar mengajar berlangsung pada Senin sore. Insiden tersebut menyebabkan beberapa siswa mengalami luka ringan dan sempat menimbulkan kepanikan di lingkungan sekolah.
Diketahui, dua ruang kelas yang roboh merupakan bagian dari enam ruang kelas baru yang selesai dibangun dan baru diserahterimakan pada Desember 2025 oleh Kantor Cabang Dinas Wilayah VIII Dinas Pendidikan Jawa Barat.
Kapolresta Bandung, Kombes Pol Aldi Subartono, menyampaikan bahwa pihak kepolisian langsung mendatangi lokasi setelah menerima laporan dari masyarakat. Dari hasil pengecekan, ditemukan bahwa dua dari enam ruang kelas baru mengalami kerusakan pada bagian atap.
Peristiwa ini kini menjadi sorotan publik, terutama terkait kualitas pembangunan fasilitas pendidikan yang seharusnya menjamin keamanan siswa selama proses belajar mengajar berlangsung.***









