Infobandungnews – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung menegaskan kesiapannya untuk mendukung operasional Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah (TPPAS) Legok Nangka yang ditargetkan mulai beroperasi secara komersial pada 2029.
Komitmen tersebut diwujudkan dengan menyiapkan armada khusus pengangkut sampah serta menyediakan lahan yang akan digunakan sebagai lokasi pemilahan sebelum sampah dikirim ke fasilitas pengolahan regional tersebut.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyampaikan, seluruh kesiapan itu merupakan bagian dari kesepakatan yang telah dibangun dalam rangka mendukung sistem pengelolaan sampah di TPPAS Legok Nangka. Ia menegaskan, sampah dari Kota Bandung nantinya wajib melalui proses pemilahan sebelum diangkut menggunakan kendaraan khusus.
“Pokoknya Kota Bandung komitmen. Kita sudah komitmen untuk pengadaan mobil transportasi khusus. Kita juga sudah menyiapkan lahan untuk pemilahan. Karena sampah dari Kota Bandung itu mesti dipilah dulu baru kemudian bisa dibawa ke Legok Nangka dengan mobil khusus,” kata Farhan, Rabu (29/7/2026).
Menurut Farhan, Kota Bandung diproyeksikan mengirimkan sekitar 800 ton sampah setiap hari ke TPPAS Legok Nangka. Karena itu, armada yang digunakan harus memiliki spesifikasi berbeda dibandingkan kendaraan yang selama ini melayani pengangkutan menuju TPPAS Sarimukti.
Ia menjelaskan, kondisi jalur menuju Legok Nangka yang didominasi tanjakan dan turunan mengharuskan penggunaan kendaraan dengan tenaga mesin dan sistem pengereman yang lebih optimal.
“Kendaraannya beda. Jadi, satu, kendaraannya mesti yang memang kuat nanjak dan punya rem yang kuat. Karena naik nanjak, balik mudun, muter balik, nanjak deui,” ujarnya.
Ke depan, TPPAS Legok Nangka akan menjadi pusat pengolahan sampah regional bagi enam daerah di kawasan Bandung Raya. Fasilitas tersebut dirancang mampu mengolah sekitar 1.853 hingga 2.131 ton sampah per hari dengan memanfaatkan teknologi waste to energy.
Farhan mengungkapkan, berdasarkan informasi yang diterimanya dari Pemerintah Jepang sebagai mitra dalam proyek tersebut, operasional komersial TPPAS Legok Nangka ditargetkan dimulai pada 2029. Hingga saat itu, Pemkot Bandung akan terus mempersiapkan seluruh kebutuhan pendukung, termasuk sistem pemilahan sampah dan armada transportasi.
“Operasional komersial 2029. Tadi janji dari Pemerintah Jepangnya,” katanya.
Saat ini, pembangunan TPPAS Legok Nangka masih berada pada tahap persiapan. Sejumlah proses administrasi dan regulasi, termasuk perjanjian jual beli listrik serta kerja sama investasi, tengah diselesaikan sebagai bagian dari tahapan proyek.
Sarimukti Akan Difokuskan untuk Pengolahan Sampah Organik
Farhan menjelaskan, setelah TPPAS Legok Nangka mulai beroperasi, TPPAS Sarimukti tetap akan dimanfaatkan dengan fungsi yang berbeda. Fasilitas tersebut direncanakan menjadi pusat pengolahan sampah organik.
Ia juga mendorong penerapan teknologi gasifikasi metana dari tumpukan sampah organik agar mampu menghasilkan manfaat tambahan sekaligus meningkatkan efektivitas pengelolaan sampah di Bandung Raya.
“Sarimukti akan dijadikan tempat pengolahan organik. Setelah dipilah, organik akan dibawa ke Sarimukti untuk diolah. Salah satu teknologi yang saya dorong adalah gasifikasi metan dari tumpukan sampah organik tersebut,” ujar Farhan.
Terkait biaya pengolahan atau tipping fee, Farhan memastikan tidak ada perubahan dalam skema yang berlaku. Besaran biaya tetap mengacu pada perjanjian kerja sama yang telah disepakati sejak 2018, dengan penyesuaian sesuai mekanisme yang telah ditetapkan dalam kontrak.***









