Infobandungnews.com – Pemerintah Provinsi Jawa Barat mulai mengoperasikan Halte ITB Ganesha A dan B pada Senin ini, bersamaan dengan peluncuran layanan Metro Jabar Trans (MJT) Koridor 5 rute Dipatiukur–Jatinangor. Layanan tersebut ditetapkan dengan tarif terjangkau sebesar Rp2.000 untuk satu kali perjalanan.
Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Barat, Dhani Gumelar, menyampaikan bahwa pengoperasian halte dan pembukaan rute ini merupakan langkah strategis yang menyasar kalangan mahasiswa. Kebijakan tersebut mencerminkan komitmen Pemprov Jabar dalam menjadikan sektor pendidikan sebagai fokus utama pengembangan transportasi publik di kawasan Bandung Raya, melalui penerapan tarif yang ramah kantong.
Keberadaan halte di kawasan Kampus ITB Ganesha yang berada di pusat kota, ditambah kebijakan tarif khusus mahasiswa sebesar Rp2.000, dinilai sangat kompetitif karena jauh lebih murah dibandingkan biaya penggunaan kendaraan pribadi untuk perjalanan lintas wilayah yang sama.
“Mahasiswa cukup membayar Rp2.000 dengan menunjukkan kartu mahasiswa, termasuk mahasiswa ITB. Sementara untuk masyarakat umum, tarifnya diberlakukan flat Rp4.900 tanpa melihat jarak tempuh,” ujar Dhani, seraya menegaskan bahwa kemudahan akses dan keterjangkauan tarif menjadi fondasi utama layanan ini.
Koridor 5 MJT memiliki peran strategis mengingat tingginya mobilitas harian antara Kampus ITB dan Universitas Padjadjaran di Bandung dengan Kampus Unpad Jatinangor, Kabupaten Sumedang.
Dengan total panjang lintasan pulang-pergi sekitar 72,3 kilometer, tarif bersubsidi tersebut diharapkan dapat membantu menekan biaya transportasi harian mahasiswa secara signifikan.
Tak hanya mahasiswa, kebijakan tarif khusus juga berlaku bagi pelajar, lanjut usia, serta penyandang disabilitas.
Dishub Jawa Barat saat ini juga tengah menyiapkan skema kartu berlangganan khusus mahasiswa sebagai solusi jangka panjang, guna mendorong sistem pembayaran yang lebih terintegrasi dengan ekosistem pendidikan.
Dari sisi operasional, layanan Koridor 5 didukung oleh 25 unit bus yang beroperasi aktif serta 3 unit bus cadangan yang disiagakan setiap hari. Dengan interval kedatangan atau headway sekitar 5 hingga 10 menit, layanan ini dirancang untuk mengurangi potensi keterlambatan civitas akademika menuju kampus.
“Pada awal masa perkuliahan biasanya terjadi peningkatan jumlah penumpang. Kami akan menyesuaikan jumlah armada sesuai kebutuhan agar pelayanan tetap optimal,” kata Dhani.
Ia menambahkan bahwa evaluasi armada dilakukan secara berkala berdasarkan data lapangan untuk mencegah penumpukan penumpang, khususnya di kawasan padat seperti Jatinangor.
Melalui program MASTRAN yang mendapat dukungan dari World Bank dan AFD, pengembangan Metro Jabar Trans (MJT) diproyeksikan menjadi tulang punggung konektivitas wilayah Bandung–Sumedang. Penerapan skema Buy The Service (BTS) juga memastikan operator lebih berfokus pada mutu layanan dibandingkan target pendapatan semata.***









