Pemprov Jabar Bentuk Tim Pemburu Anak Tidak Sekolah hingga Tingkat Desa dan Kelurahan

- Jurnalis

Kamis, 22 Oktober 2026 - 07:33 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

HERMAN SURYATMAN – Sekretaris Daerah Jawa Barat, Herman Suryatman, mendorong penguatan kolaborasi lintas sektor guna menjamin setiap anak usia sekolah tetap mendapatkan hak pendidikan. Sebagai langkah konkret, Pemerintah Provinsi Jawa Barat berencana membentuk tim khusus untuk menelusuri anak-anak yang tidak bersekolah hingga ke tingkat desa dan kelurahan, dengan melibatkan camat, kepala desa, serta lurah.

HERMAN SURYATMAN – Sekretaris Daerah Jawa Barat, Herman Suryatman, mendorong penguatan kolaborasi lintas sektor guna menjamin setiap anak usia sekolah tetap mendapatkan hak pendidikan. Sebagai langkah konkret, Pemerintah Provinsi Jawa Barat berencana membentuk tim khusus untuk menelusuri anak-anak yang tidak bersekolah hingga ke tingkat desa dan kelurahan, dengan melibatkan camat, kepala desa, serta lurah.

Infobandungnews – Pemerintah Provinsi Jawa Barat memperkuat upaya lintas sektor untuk memastikan seluruh anak usia sekolah memperoleh hak pendidikan. Salah satu langkah yang disiapkan adalah membentuk tim pemburu anak tidak sekolah (ATS) hingga tingkat desa dan kelurahan dengan melibatkan camat, kepala desa, serta lurah.

Sekretaris Daerah (Sekda) Jawa Barat, Herman Suryatman, menegaskan bahwa persoalan anak tidak sekolah bukan hanya menjadi tanggung jawab Dinas Pendidikan maupun Kementerian Agama.

Menurutnya, penanganan masalah tersebut membutuhkan sinergi dari pemerintah provinsi, kabupaten/kota, kecamatan, hingga pemerintahan desa. Kolaborasi ini diperlukan untuk mengidentifikasi penyebab anak tidak bersekolah sekaligus mencari solusi agar mereka kembali memperoleh akses pendidikan.

“Pekan depan kami akan mengundang semua camat di Jawa Barat. Selanjutnya, camat bersama lintas sektor akan mengedukasi kepala desa dan lurah se-Jabar. Kami bahkan akan membentuk tim pemburu anak tidak sekolah di desa,” kata Herman dalam Rapat Koordinasi Pendidikan di Aula Dewi Sartika, Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, Kota Bandung, Senin (12/10/2026).

Herman menjelaskan, penanganan anak tidak sekolah perlu diawali dengan pemahaman terhadap situasi keluarga secara langsung. Pemerintah tidak seharusnya terburu-buru menilai anak maupun orang tua tidak memiliki keinginan untuk melanjutkan pendidikan.

Ia menyebutkan, terdapat berbagai faktor yang menyebabkan anak tidak dapat bersekolah, mulai dari keterbatasan ekonomi, kewajiban membantu orang tua bekerja, hingga kondisi disabilitas yang membutuhkan dukungan khusus.

Oleh sebab itu, intervensi pemerintah harus disesuaikan dengan kebutuhan dan keadaan setiap keluarga agar solusi yang diberikan benar-benar efektif.

“Jangan hanya berpikir, kenapa tidak sekolah? Kita harus tahu kondisinya. Ada anak yang harus membantu orang tuanya bertani, berdagang, ada keluarga yang membutuhkan bantuan, dan ada juga anak dengan disabilitas. Situasinya bermacam-macam,” ujarnya.

Ia optimistis, banyak kasus anak tidak sekolah dapat diselesaikan apabila pemerintah menghadirkan pendekatan yang tepat, adaptif, dan tidak kaku terhadap kondisi masyarakat.

Salah satu alternatif yang dapat dimanfaatkan adalah Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) serta program pendidikan kesetaraan melalui Paket A, Paket B, dan Paket C.

Herman menilai, fleksibilitas waktu belajar, seperti pelaksanaan pembelajaran pada akhir pekan maupun di luar jam kerja, dapat membantu anak-anak yang menghadapi hambatan untuk mengikuti pendidikan formal.

“Kalau diberikan solusi kreatif dan fleksibel melalui PKBM atau pendidikan kesetaraan, saya kira mereka mau. Saya sudah datang ke beberapa keluarga yang anaknya tidak sekolah, dan ketika diajak berkomunikasi serta diberikan solusi, mereka bersedia,” katanya.

Baca Juga :  Dishub Bandung Pastikan Penataan Kawasan Selaras dengan Jalur BRT, Pembangunan Gapura Harus Penuhi Standar

Kepala Dinas Diminta Turun Langsung ke Masyarakat

Herman mengingatkan agar kepala dinas pendidikan di seluruh kabupaten dan kota di Jawa Barat tidak hanya berfokus pada pengumpulan data maupun penyusunan laporan administratif.

Ia meminta para pejabat terkait turun langsung menemui keluarga yang anaknya tidak bersekolah, menggali persoalan yang dihadapi, serta memastikan tersedianya jalur pendidikan yang dapat diakses oleh anak-anak tersebut.

Untuk mempercepat penyelesaian masalah, Pemprov Jabar juga menyiapkan mekanisme pelaporan secara berjenjang. Apabila pemerintah kabupaten/kota mengalami kesulitan dalam menangani kasus tertentu, persoalan tersebut harus diteruskan kepada Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat agar dapat ditindaklanjuti langsung di lapangan.

Jika langkah tersebut belum membuahkan hasil, Herman menyatakan kesiapannya untuk turun langsung membantu penyelesaian persoalan.

“Kalau kepala dinas kabupaten/kota tidak mampu menyelesaikan, laporkan kepada Kepala Dinas Pendidikan Jabar. Kalau belum mampu juga, laporkan kepada saya. Saya akan turun langsung. Mana orang tua yang tidak mengizinkan, mana anak yang tidak mau sekolah? Tunjukkan datanya, saya akan turun,” tegasnya.

Ia menambahkan, keseriusan aparatur pemerintah dalam menangani ATS harus dibuktikan melalui pemeriksaan langsung terhadap kondisi masyarakat. Koordinasi dan pelaporan berjenjang, menurutnya, semestinya mempercepat penyelesaian persoalan, bukan justru menghambat langkah penanganan.

“Ini tugas konstitusi. Kepala dinas kabupaten/kota harus turun langsung, mengetahui kondisi keluarga dan psikologis masyarakat. Saya sebagai Sekda juga siap turun. Kalau gubernur saja bersedia turun untuk mengecek dan memfasilitasi penyelesaian masalah, masa kita di tingkat pelaksana tidak melakukan hal yang sama?” ujarnya.

Herman kembali menekankan bahwa penanganan anak tidak sekolah harus menjadi komitmen nyata seluruh kepala dinas pendidikan kabupaten/kota di Jawa Barat, bukan sekadar memenuhi target administratif.

Pemerintah daerah diharapkan mampu memperlihatkan hasil konkret melalui penelusuran kasus, pendampingan terhadap keluarga, serta penyaluran anak ke jalur pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

Ia juga meminta setiap kendala yang ditemukan di lapangan disampaikan secara terbuka agar dapat segera dikoordinasikan dan dicarikan jalan keluarnya. Dengan demikian, tidak ada anak usia sekolah yang kehilangan kesempatan memperoleh pendidikan hanya karena persoalan yang sebenarnya dapat diatasi bersama.

Berita Terkait

Jalan Rusak Sejak 2012, Warga Cintajaya Ciamis Temui Dedi Mulyadi dan Bahas Solusi Perbaikan
Saeful Bachri Ingatkan Bahaya Judol, Pinjol, dan Kecanduan Gadget bagi Generasi Muda
Bapenda Jabar Relokasi Samsat Pajajaran ke Pusdai, Utamakan Keamanan dan Kenyamanan Wajib Pajak
Saeful Bachri Dorong Program Berkelanjutan untuk Atasi Stunting dan Tampung Aspirasi Masyarakat
Pinjaman Rp3,4 Triliun Pemprov Jabar Dikabarkan Tak Direkomendasikan Kemendagri, Opsi Alternatif Disiapkan
Atasi Banjir Bandung Raya, Pemprov Jabar Siapkan Danau Retensi dan Sodetan pada 2027
Pemprov Jabar Gandeng 86 Rumah Sakit, Perluas Akses Pengobatan bagi Warga
Jangan Korbankan Peternak! Saeful Bachri Desak Pembenahan Tata Niaga Jagung di Jawa Barat

Berita Terkait

Kamis, 22 Oktober 2026 - 07:33 WIB

Pemprov Jabar Bentuk Tim Pemburu Anak Tidak Sekolah hingga Tingkat Desa dan Kelurahan

Rabu, 21 Oktober 2026 - 07:48 WIB

Jalan Rusak Sejak 2012, Warga Cintajaya Ciamis Temui Dedi Mulyadi dan Bahas Solusi Perbaikan

Selasa, 20 Oktober 2026 - 07:52 WIB

Saeful Bachri Ingatkan Bahaya Judol, Pinjol, dan Kecanduan Gadget bagi Generasi Muda

Selasa, 20 Oktober 2026 - 07:41 WIB

Bapenda Jabar Relokasi Samsat Pajajaran ke Pusdai, Utamakan Keamanan dan Kenyamanan Wajib Pajak

Minggu, 18 Oktober 2026 - 15:07 WIB

Saeful Bachri Dorong Program Berkelanjutan untuk Atasi Stunting dan Tampung Aspirasi Masyarakat

Berita Terbaru