Infobandungnews.co – Bandung Barat – Perairan Waduk Saguling, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, dalam beberapa hari terakhir dilanda kematian ikan secara massal yang terjadi secara tiba-tiba. Peristiwa ini membuat para petani Keramba Jaring Apung (KJA) terancam mengalami kerugian besar. Fenomena tersebut dipicu oleh upwelling atau umbalan, yang sebelumnya juga telah terjadi di Waduk Cirata dan Waduk Jatiluhur.
Kematian ikan yang terjadi serempak ini mengganggu aktivitas budidaya secara signifikan. Para petani terpaksa melakukan panen lebih awal serta membersihkan bangkai ikan dari keramba demi mencegah pencemaran air yang lebih luas. Salah seorang petani KJA Saguling, Agus Suherman, menyebutkan bahwa kondisi terparah mulai dirasakan sejak Minggu (25/1/2026) dan hampir merata dialami oleh seluruh petani di kawasan tersebut.
“Di Saguling mulai parah sejak Minggu. Ikan di keramba banyak yang mati. Kalau informasi dari Jatiluhur dan Cirata, kejadiannya bahkan sudah sejak minggu sebelumnya,” ujar Agus saat dihubungi, Jumat (27/1/2026).
Menurut Agus, kematian ikan ini merupakan fenomena siklus tahunan yang kerap terjadi di perairan Waduk Saguling, khususnya di area budidaya. Namun, kondisi awal tahun ini dinilainya jauh lebih berat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
“Memang ini kejadian rutin tiap tahun, tapi biasanya tidak separah sekarang. Cuaca buruk, minim sinar matahari, kadar oksigen di air turun, itu yang memicu kematian ikan,” jelasnya.
Ia mengungkapkan hampir seluruh petani KJA di Saguling terdampak akibat cuaca ekstrem yang berlangsung selama beberapa pekan terakhir. “Sekitar 90 persen ikan di keramba jaring apung mati. Dampaknya memang sangat besar,” katanya.
Tingkat kematian ikan pun bervariasi, tergantung kepadatan kolam dan jumlah tebar benih. Semakin padat kolam, semakin tinggi risiko kematian. “Ada yang mati total 100 persen, ada yang 80 persen, 70 persen, bahkan yang paling ringan sekitar 50 persen,” ujarnya.
Meski menyadari adanya siklus tahunan kematian ikan, Agus mengakui banyak petani tetap mengambil risiko menebar benih karena pertimbangan ekonomi. Harga ikan yang cenderung tinggi pada awal tahun menjadi alasan utama.
“Kami tahu ini siklus tahunan, tapi tetap spekulasi. Soalnya kalau punya ikan di Januari–Februari, harga pasarnya bagus,” katanya.
Dari sisi skala usaha, jumlah benih yang ditebar berbeda-beda. Petani kecil biasanya menebar sekitar 5 kuintal, petani menengah sekitar 1 ton, sementara pembudidaya besar bisa mencapai 5 hingga 10 ton. Modal satu unit KJA diperkirakan mencapai Rp21 juta, termasuk biaya benih dan pakan selama masa pemeliharaan. Di Saguling, satu petani rata-rata memiliki 10 hingga 50 unit KJA.
“Kerugian tiap petani tentu berbeda, tergantung jumlah keramba yang dimiliki,” tutur Agus. Di KJA miliknya sendiri, ia menebar hampir 6 ton benih sebelum kematian massal terjadi. “Sekitar seperempatnya sudah mati dan sebagian sudah diangkat dari keramba,” tambahnya.
Sementara itu, Dinas Perikanan dan Peternakan (Dispernakan) Kabupaten Bandung Barat sebelumnya telah mengeluarkan imbauan agar petani KJA tidak menebar benih ikan pada periode rawan kematian massal. Imbauan tersebut mengacu pada kalender prediksi dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang menetapkan periode November 2025 hingga Maret 2026 sebagai masa berisiko tinggi kematian ikan di perairan umum.
Cuaca ekstrem serta fenomena umbalan—naiknya air dasar waduk yang membawa senyawa beracun—disebut sebagai pemicu utama kejadian ini.
“Kita sudah masuk kalender bahaya kematian massal ikan di KJA sejak November hingga Maret 2026. Ditambah kondisi cuaca ekstrem yang sedang berlangsung,” ujar Kepala Bidang Perikanan Bandung Barat, Dindin Rustandi, saat dihubungi beberapa waktu lalu.
Dindin menyampaikan, para pembudidaya telah diminta untuk menghentikan penebaran benih, mempercepat panen ikan yang siap jual, serta menyiapkan langkah-langkah pascapanen guna mengantisipasi risiko yang meningkat.
Pemerintah daerah juga telah menyusun dan menyebarkan panduan teknis penanganan bangkai ikan apabila terjadi kematian massal.
“Rekomendasi dan panduan teknis sudah kami distribusikan ke kecamatan dan para pembudidaya melalui penyuluh, termasuk tata cara penanganan bangkai ikan saat kejadian berlangsung,” pungkas Dindin.









