Tercatat 7,1 Juta Wisatawan ke Destinasi, Berapa Pajak yang Diperoleh Kab Bandung?

- Jurnalis

Kamis, 27 Juni 2024 - 18:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Wakil Ketua KomisinX DPR Dede Yusuf Macan Effendi

Wakil Ketua KomisinX DPR Dede Yusuf Macan Effendi

Infobandungnews.com – Pasca Covid-19, kepariwisataan di Kabupaten Bandung kembali bergairah. Hal itu ditandai dengan jumlah wisatawan yang berkunjung ke Kabupaten Bandung. Tercatat 7,1 juta pelancong mengunjungi destinasi wisata di Kabupaten Bandung.

“Tahun lalu adi 7,1 juta wisatawan yang mengunjungi destinasi. Datanya terbalik dibanding saat Covid yang hanya 1,7 juta orang,” kata Vena Andriawan, kepala bidang promosi dan pemasaran Disparbud Kabupaten Bandung.

Vena menyampaikan hal tersebut saat kegiatan Kemenparekraf di Rockhill Arjasari pada Sabtu (22/6/2024) yang dihadiri Wakil Ketua Komisi X DPR Dede Yusuf Macan Effendi.

“Tahun lalu, pajaknya saja mencapai 45 miliar,” tegas Vena. Kalau pajaknya saja tercatat segitu, total perputaran uang dari 7,1 juta wisatawan yang datang tersebut diperkirakan Rp 450 miliar.

Vena Andriawan, kepala bidang promosi dan pemasaran Disparbud Kabupaten Bandung

“Itu sudah termasuk spending dan leng of stay, bagaimana orang belanja, makan, dan menggunakan fasilitas hotel untuk menginap,” ungkapnya.

Dijelaskan, saat ini di setiap kecamatan sudah ada venue pariwisata. Bentuknya beragam. Ada wahana permainan air, edukasi anak, hotel, cafe, dan restoran.

Pemda Kabupaten Bandung di bawah nakhoda Bupati Dadang Supriatna, lanjutnya, terus genjot digitalisasi layanan dan informasi kepariwisataan. Salah satunya dengan aplikasi SIMBARRAYA.

Yaitu, support satu data kepariwisataan. Singkatan dari Sistem Informasi Basis Data Pariwisata, Ekonomi Kreatif, dan Budaya. “Registrasi dan input data oleh pelaku pariwisata cukup dalam bentuk WA,” paparnya.

Wakil Ketua Komisi X DPR RI Dede Yusuf Macan mengapresiasi layanan digital kepariwisataan. Sebab akan mengurangi tingkat kebocoran pendapatan asli daerah (PAD). Juga memudahkan komunikasi antara pelaku pariwisata dan dinas terkait.

Bagi pelaku UMKM juga lebih memudahkan. Sebab digitalisasi akan memangkas ruwetnya perizinan. Kemudian biaya promosi dan pemasaran bisa ditekan seminimal mungkin.

“Bisnis konvensional biasanya 40 persen anggaran habis untuk promosi. Dengan bantuan digital tidak perlu lagi bayar billboard, oknum, ormas atau LSM yang aneh-aneh,” katanya.

Bukan hanya itu. Bisnis di era digital juga tak perlu bangun atau sewa toko. “Ongkos produksi jadi murah karena kalau punya toko setidaknya harus ada 2-4 karyawan,” tegas Dede Yusuf. (ADG-IBN004)***

Berita Terkait

Jelang Reaktivasi Bandara Husein, Pemkot Bandung Genjot Perbaikan Infrastruktur dan Akses Transportasi
JPO Terminal Cicaheum Dibongkar, Pemkot Bandung Siapkan Kawasan untuk Depo BRT
Merasa Dizalimi, Guru PPPK di Kabupaten Bandung Gugat BKPSDM Usai Dipecat karena Diduga Jadi Istri Kedua ASN
Investasi Rp11 Triliun Masuk Bandung, Farhan Siapkan Angkot Listrik hingga 850 Titik PJU Baru
Cegah Kejahatan, RT dan RW di Bandung Barat Diminta Rutin Cek Indekos dan Kontrakan
Relokasi Bus AKAP/AKDP Bandung Belum Tuntas, Tersisa 20 Persen Masih di Cicaheum
Farhan Tegaskan Tak Ada Lagi Pedagang Cuanki dan Nongkrong Hingga Larut Malam di Depan Pusdai Bandung
Pernah Ber-KTP Cimahi, Erwan Setiawan Bangga Saksikan Transformasi Kota Cimahi

Berita Terkait

Selasa, 30 Juni 2026 - 23:52 WIB

Jelang Reaktivasi Bandara Husein, Pemkot Bandung Genjot Perbaikan Infrastruktur dan Akses Transportasi

Jumat, 26 Juni 2026 - 20:41 WIB

Merasa Dizalimi, Guru PPPK di Kabupaten Bandung Gugat BKPSDM Usai Dipecat karena Diduga Jadi Istri Kedua ASN

Kamis, 25 Juni 2026 - 07:13 WIB

Investasi Rp11 Triliun Masuk Bandung, Farhan Siapkan Angkot Listrik hingga 850 Titik PJU Baru

Rabu, 24 Juni 2026 - 20:47 WIB

Cegah Kejahatan, RT dan RW di Bandung Barat Diminta Rutin Cek Indekos dan Kontrakan

Selasa, 23 Juni 2026 - 07:19 WIB

Relokasi Bus AKAP/AKDP Bandung Belum Tuntas, Tersisa 20 Persen Masih di Cicaheum

Berita Terbaru