Infobandungnews – Wakil Ketua Komisi II DPR RI, Dede Yusuf, melakukan kunjungan ke Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 16 Kabupaten Bandung pada Rabu, 25 Februari 2026. Kunjungan tersebut didampingi Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat Saeful Bachri serta Wakil Ketua DPRD Kabupaten Bandung M. A. Hailuki.
Rombongan disambut oleh Kepala Dinas Sosial Kabupaten Bandung Hj. Ningning Hendarsyah, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Diki, serta Kepala Sekolah SRT 16 Kabupaten Bandung Yanti Widiastuti beserta jajaran.
Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 16 Kabupaten Bandung saat ini untuk sementara masih menempati gedung wisma atlet milik Pemerintah Kabupaten Bandung yang berada di kawasan Stadion Si Jalak Harupat kutawaringin. Hingga kini, SRT 16 menampung 159 siswa yang terbagi dalam dua jenjang pendidikan, yakni tiga rombongan belajar (rombel) tingkat SMP dan tiga rombel tingkat SMA.
Di sisi lain, pembangunan gedung definitif SRT 16 tengah berlangsung di wilayah Barusampeu Desa Lebak Muncang, Kecamatan Ciwidey di atas lahan seluas 7,6 hektare. Proyek ini merupakan kerja sama Pemkab Bandung dan Kementerian Sosial untuk menampung hingga 1.000 siswa dari keluarga rentan miskin, menyediakan pendidikan gratis, asrama, dan fasilitas lengkap.
Dalam kesempatan tersebut, Dede Yusuf menegaskan bahwa pendidikan tidak boleh hanya berorientasi pada kelulusan semata. Menurutnya, jika aspek sosiologis diabaikan, anak berisiko kehilangan jiwa kompetisi dan penguatan karakter yang sangat penting untuk kesiapan memasuki dunia kerja.
Ia menjelaskan bahwa Sekolah Rakyat merupakan proyek akselerasi pendidikan yang menyasar anak-anak dari keluarga kurang mampu, khususnya kelompok desil 1 dan desil 2. Ia juga menyoroti pentingnya pengawasan bantuan beasiswa agar tepat sasaran serta menekankan bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya bergantung pada kurikulum, tetapi juga pada peran pendamping.
“Guru tidak akan sanggup sepenuhnya menjadi orang tua siswa. Pendamping memiliki pengalaman lapangan dalam pendampingan sosial,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa tantangan terbesar generasi saat ini berkaitan dengan kesehatan mental dan pembentukan karakter.
Menurutnya, kurikulum SRT tidak bisa dinilai dalam waktu tiga tahun karena program ini merupakan investasi jangka panjang. Ia juga mengapresiasi Pemerintah Kabupaten Bandung yang meminjamkan sementara wisma atlet sebagai lokasi operasional SRT 16 serta menegaskan bahwa keberhasilan program ini tidak lepas dari kolaborasi lintas sektor, termasuk kementerian sosial dan kementerian pendidikan.
Dede Yusuf menilai SRT telah berada pada jalur yang tepat, namun penguatan manajemen dan perhatian terhadap aspek psikologis siswa tetap diperlukan. Ia juga berharap materi sosiologi dalam kurikulum dapat diperkuat.
Sementara itu, Saeful Bachri menyampaikan apresiasi terhadap keberadaan SRT 16 dan menekankan pentingnya sosialisasi program kepada masyarakat agar semakin dikenal luas. Ia memastikan dukungan terhadap program tersebut, termasuk melalui dinas terkait di Provinsi Jawa Barat.
Di tempat yang sama, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Bandung M. A. Hailuki menyampaikan dukungannya terhadap SRT sebagai program strategis untuk memutus rantai kemiskinan. Ia menyebut tingkat kemiskinan di Kabupaten Bandung terus menurun dan keberadaan SRT diharapkan mampu melahirkan lulusan berkualitas yang dapat meningkatkan taraf hidup keluarganya.
Ia juga menyoroti bahwa rekrutmen siswa berbasis desil membawa tantangan adaptasi mental karena latar belakang lingkungan asal siswa. Oleh karena itu, diperlukan masa transisi atau orientasi, mengingat terdapat kasus siswa yang mengundurkan diri akibat kesulitan beradaptasi.
Terkait kurikulum, Hailuki menegaskan bahwa keberhasilan implementasi sangat bergantung pada pemahaman tenaga pendidik. Ia juga mengkhawatirkan minimnya muatan lokal dalam pembelajaran. Menurutnya, integrasi nilai budaya lokal penting untuk menjaga karakter daerah yang perlahan memudar.
Sebelum meninggalkan lokasi, rombongan meninjau ruang kelas dan berbagai fasilitas di SRT 16, termasuk ruang tidur siswa serta ruang pendamping, guna melihat langsung kondisi dan kebutuhan operasional sekolah.***









