Infobandungnews – YOGYAKARTA, 22 September 2026 — Badan Gizi Nasional (BGN) Regional Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengambil tindakan tegas terhadap Gerardus Permanaditya, pegawai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Dlingo, Kabupaten Bantul.
Gerardus diberhentikan setelah pernyataannya yang dinilai mengolok-olok seorang siswi asal Kabupaten Karo, Sumatera Utara, yang sebelumnya mengalami hilang ingatan dan diduga terdampak keracunan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Koordinator Regional BGN DIY, Wirandita Gagat Widyatmoko, mengatakan pemberhentian tersebut merupakan bagian dari penegakan standar etika, perilaku, dan profesionalitas bagi seluruh personel yang terlibat dalam pelaksanaan Program MBG.
“Kami menyayangkan adanya pernyataan tersebut. Setelah dilakukan penanganan sesuai ketentuan, yang bersangkutan telah diberhentikan. Ini menjadi pelajaran bagi seluruh jajaran bahwa bekerja dalam Program MBG tidak hanya dituntut memiliki kemampuan teknis, tetapi juga memiliki etika, empati, sensitivitas, dan tanggung jawab dalam berkomunikasi,” kata Gagat dalam keterangan yang diterima, Minggu (21/9) malam.
Menurut Gagat, setiap persoalan yang berkaitan dengan keamanan pangan harus mendapat perhatian serius dari seluruh pihak. Apabila terdapat masyarakat atau penerima manfaat yang diduga mengalami dampak dari suatu kejadian, jajaran SPPG diminta mengutamakan sisi kemanusiaan dan menunjukkan empati.
Ia menegaskan, kondisi tersebut tidak semestinya dijadikan bahan candaan, apalagi disampaikan dalam bentuk olok-olok terhadap pihak yang sedang mengalami persoalan.
Gagat juga meminta seluruh personel SPPG lebih bijak ketika menggunakan media sosial maupun memberikan pernyataan di ruang publik. Sebab, ucapan yang disampaikan oleh seorang petugas dapat berdampak terhadap pandangan masyarakat terhadap pelaksanaan Program MBG secara luas.
“Kita harus memahami sensitivitas persoalan yang sedang dihadapi masyarakat. Jangan sampai persoalan yang seharusnya menjadi pembelajaran bersama justru dikomentari dengan cara yang tidak tepat. Empati dan saling menghormati harus menjadi bagian dari budaya kerja kita,” katanya.
BGN Regional DIY selanjutnya meminta seluruh jajaran tidak memperpanjang polemik tersebut. Kasus ini diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki mutu penyelenggaraan Program MBG.
Gagat menilai perhatian publik terhadap program tersebut semakin meningkat. Oleh sebab itu, setiap SPPG dituntut untuk memperlihatkan kinerja yang baik, menjaga kedisiplinan, memastikan keamanan pangan, mempertahankan kualitas makanan, serta meningkatkan pelayanan dan komunikasi kepada masyarakat.
“Kami mengarahkan seluruh jajaran untuk fokus bekerja. Tingkatkan kualitas pelayanan, pastikan keamanan pangan, laksanakan SOP, perkuat pengawasan, dan berikan pelayanan terbaik kepada penerima manfaat. Saat ini masyarakat memberikan perhatian yang besar terhadap Program MBG, maka jawab perhatian tersebut dengan kinerja yang semakin baik,” imbuh Gagat.
Sebelumnya Viral di Media Sosial
Kasus tersebut bermula setelah video yang menampilkan seorang pegawai SPPG di Kabupaten Bantul, DIY, diduga mengolok-olok seorang siswi asal Kabupaten Karo, Sumatera Utara, yang mengalami hilang ingatan dan diduga berkaitan dengan keracunan MBG.
Dalam video yang beredar luas, pegawai tersebut tampak memberikan komentar bernada olok-olok ketika mencicipi menu ayam katsu. Menu tersebut disebut telah dimasak sehari sebelum video direkam.
Peristiwa tersebut kemudian mendapat perhatian Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Ia mengecam tindakan yang dilakukan oleh Gerardus dan mengingatkan pentingnya menciptakan ruang publik yang aman bagi anak-anak.
“Perkataan oknum SPPG ini sangat disayangkan. Mari kita bersama menjaga ruang publik yang aman dan ramah bagi semua. Jangan sampai anak-anak justru menjadi korban perundungan,” ungkap Gibran melalui unggahan resmi Instagram @gibran_rakabuming, Minggu (20/9).
Dalam unggahan tersebut, Gibran turut memperlihatkan video aksi Gerardus yang sedang memakan ayam katsu sebagaimana video yang sebelumnya beredar di media sosial.
Video tersebut kemudian disandingkan dengan dokumentasi Gibran ketika mengunjungi korban dugaan keracunan MBG di Kabupaten Karo, Sumatera Utara.
Gibran juga menyampaikan perkembangan kondisi dua siswi asal Kabupaten Karo, yakni Febiona Purba dan Agnesia Paruliana Silitonga, yang sebelumnya sempat mengalami hilang ingatan setelah diduga mengalami keracunan MBG.
Keduanya kini telah diperbolehkan pulang ke rumah masing-masing setelah menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM).
“Saat ini Agnesia dan Febiona telah kembali ke rumah masing-masing di Kab. Karo dan akan masuk sekolah kembali,” katanya.









