ITB Kembangkan Teknologi Rumah Garam di Jeneponto, Dorong Produktivitas dan Kualitas Garam Rakyat

- Jurnalis

Rabu, 28 Oktober 2026 - 07:58 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tim PMKI ITB Jeneponto bersama masyarakat dan mitra di depan rumah garam tunnel di Kelurahan Pallengu, Kecamatan Bangkala, Kabupaten Jeneponto.

Tim PMKI ITB Jeneponto bersama masyarakat dan mitra di depan rumah garam tunnel di Kelurahan Pallengu, Kecamatan Bangkala, Kabupaten Jeneponto.

Infobandungnews – Institut Teknologi Bandung (ITB) berkolaborasi dengan sejumlah perguruan tinggi dan pemerintah daerah menghadirkan inovasi teknologi untuk meningkatkan hasil produksi serta kualitas garam rakyat di Kelurahan Pallengu, Kecamatan Bangkala, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan.

Program yang berlangsung pada 13–18 September 2026 tersebut menghadirkan rumah garam berbentuk tunnel, teknologi sensor pemantau kepekatan air garam, serta pelatihan pengolahan garam bagi masyarakat setempat.

Inovasi ini dikembangkan untuk mengurangi hambatan produksi akibat perubahan cuaca, khususnya hujan, sekaligus meminimalkan pencemaran garam oleh tanah dan kotoran. Selain meningkatkan mutu produk, garam hasil pengolahan tersebut juga diarahkan untuk mendukung kegiatan pascapanen rumput laut.

Kegiatan yang tergabung dalam Program Pengabdian Masyarakat Kolaborasi Indonesia (PMKI) 2026 ini dipimpin oleh Dr. Lamona Irmudyawati Bernawis, S.Pi., M.Sc., dari Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) ITB.

Pelaksanaannya melibatkan dosen dan mahasiswa ITB, dengan dukungan akademisi dari Universitas Hasanuddin (Unhas), Universitas Diponegoro (Undip), Institut Pertanian Bogor (IPB), serta Pemerintah Kabupaten Jeneponto.

Kabupaten Jeneponto dikenal sebagai salah satu wilayah penghasil garam rakyat di Sulawesi Selatan. Kendati demikian, aktivitas produksi masih menghadapi sejumlah kendala, terutama ketergantungan terhadap cuaca. Hujan dapat memperlambat proses penguapan hingga melarutkan kristal garam yang telah terbentuk.

Di sisi lain, metode kristalisasi yang dilakukan langsung di atas permukaan tanah berisiko menyebabkan garam tercampur lumpur dan berbagai zat pengotor, sehingga memengaruhi kualitas hasil panen.

Menjawab persoalan tersebut, tim PMKI merancang sistem produksi yang lebih terlindungi, mengembangkan perangkat sensor untuk memantau konsentrasi larutan garam, serta memberikan pendampingan mengenai teknik pengolahan hasil panen.

Pengembangan teknologi tepat guna (TTG) dan sistem sensor dikoordinasikan oleh Aep Patah, Ph.D., dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) ITB bersama Gerald Arya Dewangga. Adapun kegiatan pengujian kualitas perairan dipimpin oleh Dr. Lamona bersama Indrawan.

Sementara itu, pelatihan pemurnian garam dilaksanakan oleh tim ITB bersama Universitas Diponegoro yang dipimpin Prof. Dr.-Ing. Suherman dan diwakili Tubagus Rayyan Fitra Sinuhaji, S.T., M.T. Materi mengenai pemanfaatan garam untuk pengolahan pascapanen rumput laut disampaikan oleh Prof. Dr. Kustiariyah Tarman dari IPB.

Rumah Garam Tunnel, Lindungi Produksi dari Cuaca

Sebagai bagian dari penerapan teknologi, tim PMKI membangun fasilitas produksi garam dengan merehabilitasi tambak yang sudah tidak aktif milik Pemerintah Kabupaten Jeneponto di Lingkungan Balobboro, Kelurahan Pallengu.

Unit TTG terpadu di tambak milik Pemerintah Kabupaten Jeneponto, Kelurahan Pallengu, terdiri atas petak labirin dan rumah garam tunnel.

Pembangunan dimulai pada 4 September 2026 dengan pendampingan Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Jeneponto serta pemerintah kelurahan setempat.

Fasilitas berukuran sekitar 11 × 15 meter tersebut terdiri atas area penguapan berbentuk labirin dan bangunan rumah garam transparan menyerupai terowongan atau tunnel.

Desain tersebut memungkinkan sinar matahari tetap masuk untuk membantu proses penguapan, sekaligus melindungi pembentukan kristal garam dari paparan hujan.

Untuk menjaga kebersihan produk, tim juga melapisi dasar area produksi menggunakan material non-woven geotextile dan geomembran berbahan High-Density Polyethylene (HDPE). Pemasangan material ini bertujuan mengurangi risiko tercampurnya garam dengan tanah maupun pengotor lainnya.

Teknologi tersebut turut dilengkapi sensor derajat Baumé berbasis Arduino untuk mengukur tingkat kepekatan larutan garam.

Dengan adanya perangkat ini, petambak dapat memantau konsentrasi air garam dan menentukan waktu yang tepat untuk memindahkan larutan ke petak kristalisasi. Proses produksi diharapkan menjadi lebih terukur dan efisien.

Survei Kualitas Air untuk Menentukan Kelayakan Tambak

Tim ITB mengukur kualitas perairan menggunakan Water Quality Profiler dari perahu di perairan Bangkala, Selasa (15/9/2026).

Selain membangun fasilitas produksi, tim ITB melakukan pengamatan kualitas perairan di Teluk Tamparangkeke dan Teluk Garassikang pada Selasa (15/9/2026).

Pengukuran menggunakan perangkat Water Quality Profiler Rinko JFE Advantech dengan cakupan 10 titik pengamatan. Lokasi tersebut meliputi masing-masing empat stasiun di kedua teluk serta dua stasiun tambahan pada bagian inlet, yakni di dalam dan di luar kawasan tambak.

Sejumlah parameter yang dianalisis mencakup suhu, salinitas, densitas, tingkat keasaman atau pH, oksigen terlarut, klorofil-a, serta kekeruhan air atau turbiditas.

Hasil pengukuran akan menjadi bahan evaluasi untuk menentukan kesesuaian sumber air baku yang digunakan dalam produksi garam. Data tersebut juga akan dimanfaatkan untuk menyusun peta spasial mengenai potensi dan kesesuaian lokasi tambak garam di wilayah Bangkala.

Meski demikian, penentuan kelayakan akhir suatu lokasi masih membutuhkan analisis lebih lanjut terhadap keseluruhan data yang diperoleh dari lapangan.

Pelatihan Pemurnian untuk Meningkatkan Kualitas Garam

Peserta mengikuti sesi pemanfaatan garam untuk pasca panen rumput laut dan olahan perikanan.

Upaya meningkatkan mutu garam rakyat turut dilakukan melalui pelatihan yang berlangsung di Kantor Kelurahan Pallengu pada Kamis (17/9/2026).

Pada sesi pertama, sebanyak 10 petambak garam bersama pegawai Dinas Perikanan Kabupaten Jeneponto mengikuti pembelajaran mengenai teknik pemurnian garam krosok.

Tim ITB dan Undip memperkenalkan metode pencucian menggunakan air tua atau brine washing. Teknik tersebut bertujuan mengurangi kandungan zat pengotor dalam garam, termasuk kalsium dan magnesium.

Peserta juga mendapatkan praktik langsung mengenai proses penggerusan dan penyaringan kristal garam. Selain itu, mereka diperkenalkan dengan teknik fortifikasi menggunakan kalium iodat (KIO₃) sebanyak 30 ppm sesuai standar SNI garam konsumsi.

Melalui rangkaian proses pemurnian tersebut, kadar natrium klorida (NaCl) ditargetkan dapat mencapai 98–99 persen.

Pelatihan ini diharapkan memberikan pemahaman kepada petambak mengenai pentingnya menjaga kebersihan bahan baku, menerapkan tahapan pengolahan yang tepat, serta menghasilkan garam dengan kualitas yang lebih baik.

Garam Berkualitas untuk Mendukung Pengolahan Rumput Laut

Petambak mempraktikkan pemurnian garam menggunakan air tua pada sesi pertama pelatihan di Kelurahan Pallengu.

Pemanfaatan hasil inovasi tidak terbatas pada produksi garam konsumsi. Tim PMKI juga memperkenalkan potensi penggunaan garam hasil teknologi tepat guna untuk menunjang pengolahan rumput laut.

Pada sesi kedua pelatihan, sebanyak 10 petani rumput laut bersama pegawai Dinas Perikanan Kabupaten Jeneponto mendapatkan materi dari Prof. Dr. Kustiariyah Tarman dari IPB.

Dalam kegiatan tersebut, peserta diperkenalkan dengan penggunaan garam untuk proses pencucian dan perendaman rumput laut. Penerapan teknik tersebut diharapkan dapat membantu memperpanjang masa simpan serta mengurangi aroma yang tidak diinginkan pada produk.

Pemanfaatan garam dalam proses pascapanen ini membuka peluang diversifikasi penggunaan produk garam rakyat. Dengan demikian, garam tidak hanya menjadi komoditas utama petambak, tetapi juga dapat mendukung pengolahan hasil perikanan dan rumput laut.

Jika diterapkan secara tepat, pendekatan tersebut berpotensi menciptakan nilai tambah bagi masyarakat pesisir melalui keterhubungan antara sektor produksi garam dan pengolahan rumput laut.

Pemkab Jeneponto Dukung Penerapan Teknologi Tepat Guna

Pelaksanaan PMKI 2026 memperoleh dukungan dari Pemerintah Kabupaten Jeneponto. Sebagai langkah awal koordinasi, tim ITB menggelar audiensi di Kantor Bupati Jeneponto pada Senin (14/9/2026).

Audiensi tim pengabdian masyarakat ITB dengan Pemerintah Kabupaten Jeneponto, Senin (14/9/2026).

Pertemuan tersebut dihadiri Sekretaris Daerah Dr. Aspa Muji, S.STP., M.Si., Kepala Bappeda Dr. H. Alfian Afandy Syam, S.T., M.T., Ph.D., serta Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Abd. Rajab Gaus, S.Pi., M.Si.

Pada puncak kegiatan pelatihan, Bupati Jeneponto H. Paris Yasir, S.E., M.M., turut hadir bersama Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan, Camat Bangkala Uud Panca, S.Sos., M.M., Lurah Pallengu Fadli, S.S., serta masyarakat setempat.

Dalam sambutannya, Bupati menyoroti potensi Bangkala sebagai daerah penghasil garam yang selama ini masih menghadapi kendala produksi ketika memasuki musim hujan. Ia menilai inovasi teknologi yang diperkenalkan melalui PMKI dapat menjadi salah satu solusi untuk membantu petambak mengatasi persoalan tersebut.

“Pemerintah Kabupaten Jeneponto menyambut baik kolaborasi ini karena penerapan teknologi tepat guna diharapkan dapat membantu petambak meningkatkan produktivitas dan kualitas garam rakyat. Kami berharap teknologi yang dikembangkan tidak berhenti pada tahap pelatihan, tetapi dapat diterapkan secara berkelanjutan dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar H. Paris Yasir.

Ketua tim PMKI, Dr. Lamona Irmudyawati Bernawis, juga berharap fasilitas yang telah dibangun dapat dirawat dan dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat setempat.

“Unit ini sekarang menjadi milik masyarakat. Harapan kami, para petambak di Pallengu dapat mengelolanya dengan baik sehingga dapat menjadi contoh bagi petambak lain di Jeneponto,” ujarnya.

Penyerahan simbolis sensor kepada Bupati Jeneponto pada pelatihan puncak PMKI 2026.

Penyerahan fasilitas teknologi tepat guna tersebut menjadi salah satu langkah untuk mendorong penerapan inovasi secara berkelanjutan di tingkat masyarakat.

Ke depan, rumah garam tunnel, sistem pemantauan kepekatan air, serta peningkatan keterampilan pengolahan diharapkan dapat menjadi model pengembangan tambak garam rakyat di Kabupaten Jeneponto.

Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan masyarakat, inovasi ini diharapkan mampu meningkatkan produktivitas, memperbaiki kualitas garam, serta memperkuat potensi ekonomi masyarakat pesisir.

Sumber : https://itb.ac.id/

Berita Terkait

Dede Yusuf Soroti Dana Hibah Pemilu, Usulkan NPHD Dikelola Pemerintah Pusat
Menkeu Tegaskan Gaji PNS, TNI, dan Polri Tetap Masuk Rekening Pribadi, Bukan Lewat Koperasi
Upin dan Ipin Kembali Sindir Kabut Asap Indonesia, 30 Wilayah di Malaysia Terdampak Polusi
Dede Yusuf: Revisi UU Pemilu Harus Serap Aspirasi Publik dan Perkuat Kepastian Hukum
Pemerintah Siapkan Program Ponsel Gratis dan Rekening Digital, Saldo Awal Rp50 Ribu
Mentrans Iftitah Dukung BP Batam Perluas Investasi dan Lapangan Kerja di Rempang
Bansos BPNT Rp600 Ribu: Begini Cara Cek Status Penerima dan Penyebab Dana Belum Cair
Mulai 2027, Pemerintah Targetkan Uang Pensiun ASN Langsung Masuk Rekening Penerima

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 07:58 WIB

ITB Kembangkan Teknologi Rumah Garam di Jeneponto, Dorong Produktivitas dan Kualitas Garam Rakyat

Minggu, 25 Oktober 2026 - 20:30 WIB

Dede Yusuf Soroti Dana Hibah Pemilu, Usulkan NPHD Dikelola Pemerintah Pusat

Jumat, 23 Oktober 2026 - 20:06 WIB

Menkeu Tegaskan Gaji PNS, TNI, dan Polri Tetap Masuk Rekening Pribadi, Bukan Lewat Koperasi

Rabu, 21 Oktober 2026 - 07:36 WIB

Upin dan Ipin Kembali Sindir Kabut Asap Indonesia, 30 Wilayah di Malaysia Terdampak Polusi

Kamis, 15 Oktober 2026 - 07:21 WIB

Dede Yusuf: Revisi UU Pemilu Harus Serap Aspirasi Publik dan Perkuat Kepastian Hukum

Berita Terbaru