Infobandungnews.com – Pangandaran. Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat Saeful Bachri terima keluhan dari para nelayan pantai Pangandaran saat melakukan kegiatan Pengawasan Pelaksanaan Pemerintahan di Jl. Kalen Buaya Pangandaran. minggu (9 November 2025). Keluhan tersebut disampaiakan Bapak Junaedi salah seorang peserta yang mewakili para nelayan di wilayah Pangandaran tersebut bahwa, saat ini pantai Pangandaran menghadapi persoalan serius berupa pencemaran laut dan pantai akibat sampah, terutama plastik.
Yang mereka rasakan jaring mereka tampak berat seolah penuh dengan hasil tangkapan ikan, namun saat ditarik ke bibir pantai, yang terlihat justru tumpukan plastik kresek, botol air mineral, potongan styrofoam, dan sisa bungkus makanan instan bercampur dengan ikan yang tersangkut di antara sampah tersebut.
“Sekarang sebelum menimbang ikan hasil tangkapan, kami harus memilahnya dulu dari tumpukan sampah tersebut. Pekerjaan yang seharusnya cepat kini jadi memakan waktu lama.” keluh Junaedi.
Junaedi menuturkan, melaut kini bukan sekadar mencari ikan, tetapi juga berjuang melawan sampah. Terumbu karang yang seharusnya menjadi tempat hidup ikan kini banyak tertutup limbah, menyebabkan ikan berpindah atau mati. Akibatnya, hasil tangkapan pun terus menurun. “Kalau dulu sekali melaut bisa penuh satu perahu, sekarang setengahnya pun sulit,” ujarnya.
Harapan mereka keluhan ini bisa disampiakan kepada pemerintah agar seger melakukan tindakan konkrit karena laut yang dulu menjadi sumber penghidupan, kini justru menambah beban pekerjaan. Para nelayan harus memisahkan ikan dari sampah setiap kali pulang melaut, sementara pendapatan mereka semakin tertekan. Di balik hiruk-pikuk wisata, laut yang sama kini menjadi sumber keresahan bagi masyarakat pesisir. Saat arus laut membawa sampah dari berbagai daerah, nelayanlah yang pertama kali merasakan dampaknya.

Bagi sebagian orang, persoalan sampah mungkin hanya sekadar isu kebersihan pantai. Namun bagi nelayan, ini adalah masalah keberlangsungan hidup. Berkurangnya hasil tangkapan berarti menipisnya pendapatan untuk membeli bahan bakar, memperbaiki jaring, hingga membiayai pendidikan anak-anak mereka.
Para nelayan di Pangandaran berharap pemerintah dapat mengambil langkah nyata dan bekerja sama dengan masyarakat untuk menangani permasalahan ini secara serius dan berkelanjutan.
Pada kesempatan tersebut Saeful Bachri menyampaikan “masalah sampah laut di Pangandaran memang sudah menjadi persoalan serius yang berdampak pada lingkungan, ekonomi nelayan, dan citra pariwisata. Beberapa solusi komprehensif yang bisa dilakukan secara bertahap dan kolaboratif antara pemerintah, masyarakat, dan pelaku wisata diantaranya yang pertama, Penguatan Tata Kelola dan Regulasi. Penegakan aturan tentang larangan membuang sampah ke sungai dan laut dengan sanksi tegas.
Sinkronisasi kebijakan antara Pemkab Pangandaran, Pemprov Jabar, dan Kementerian Lingkungan Hidup terkait pengelolaan limbah pesisir. Penerapan zona bersih pantai dan pelabuhan, dengan petugas rutin memantau dan menindak pelanggaran,” ungkap Saeful Bachri.
Anggota DPRD Jabar dari Fraksi Demokrat tersebut melanjutkan, yang ke dua “Peningkatan Infrastruktur dan Sistem Pengelolaan Sampah. Menyediakan fasilitas tempat sampah terpilah di seluruh area wisata, dermaga, dan perkampungan nelayan. Membangun atau memperluas bank sampah dan TPS 3R (Reduce, Reuse, Recycle) di desa-desa pesisir. Memasang jaring penyaring sampah di muara sungai agar limbah domestik tidak langsung terbawa ke laut.” lanjut Saeful.
” Tak hanya meningkatkan infrastrukturnya saja tetatapi melakukan Edukasi dan Pemberdayaan Masyarakat Pesisir dengan cara melakukan kampanye rutin tentang bahaya sampah laut melalui sekolah, kelompok nelayan, dan komunitas wisata. Memberdayakan komunitas nelayan dan pemuda lokal sebagai Patroli Laut Bersih untuk memantau dan mengumpulkan sampah terapung”.
” Kolaborasi dengan Pelaku Wisata dan Swasta yang ada di wilyah Pangandaran dengan mengajak pengelola hotel, restoran, dan operator wisata laut untuk menerapkan program zero waste tourism. Membentuk forum kolaborasi wisata berkelanjutan yang melibatkan pemerintah daerah, komunitas lokal, dan pelaku usaha. Penerapan insentif atau penghargaan bagi destinasi wisata dan pelaku usaha yang konsisten menjaga kebersihan laut,” sambungnya.
Saeful Bachri menegaskan ” Yang paling penting dalam hal ini adalah perubahan Perilaku dan Budaya untuk menumbuhkan kesadaran kolektif bahwa laut bukan tempat sampah, melainkan sumber kehidupan. Mengintegrasikan pendidikan lingkungan ke dalam kurikulum sekolah-sekolah di wilayah pesisir. Menyelenggarakan gerakan bersih pantai rutin yang melibatkan warga, wisatawan, dan komunitas.,” Tegas Saeful Bachri.*** ( YG_IBN001)









