Anggota DPRD Jabar Saeful Bachri Serap Aspirasi dan Siapkan Langkah Penyelesaian

- Jurnalis

Rabu, 26 November 2025 - 22:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Anggota DPRD Jawa Barat, Saeful Bachri, dalam agenda reses Tahun Sidang 2025–2026 pada Rabu (26/11/2025).

Anggota DPRD Jawa Barat, Saeful Bachri, dalam agenda reses Tahun Sidang 2025–2026 pada Rabu (26/11/2025).

Infobandungnews.com – Para petani beras ketan di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, kembali menyuarakan keluhan terkait sulitnya memasarkan hasil panen. Minimnya dukungan Pemerintah Kabupaten Bandung dalam aspek pemasaran membuat kondisi mereka semakin terdesak. Padahal, beras ketan asal Pacet dikenal memiliki mutu lebih unggul dibandingkan daerah lain seperti Tasikmalaya maupun Cililin, Bandung Barat.

Asep Sufaal (60), salah satu petani ketan, mengungkapkan bahwa ia dan petani lainnya selama ini mengikuti arahan pemerintah daerah untuk menanam padi ketan. Namun, mereka kemudian dihadapkan pada masalah baru: tidak adanya bantuan pemasaran dari pemerintah.

Karena terlanjur menanam, para petani akhirnya berusaha memasarkan hasil panen secara mandiri, bahkan sampai ke Jakarta, dengan biaya angkut yang harus mereka tanggung sendiri.

“Pemerintah menganjurkan kami menanam ketan. Tapi sekarang kami kesulitan menjualnya karena tidak ada pendampingan pemasaran. Padahal kualitas beras ketan Pacet itu jauh lebih baik, baik dari warnanya maupun aromanya,” ujar Asep.

Aspirasi tersebut disampaikan kepada Anggota DPRD Jawa Barat, Saeful Bachri, dalam agenda Reses I Tahun Sidang 2025–2026 pada Rabu (26/11/2025).

Asep menambahkan bahwa ketika mereka membawa 5 ton beras ketan ke Jakarta, hanya satu karung sekitar 50–60 kilogram yang berhasil terjual.

“Petani sudah siap dan tidak ragu menanam. Tapi menjualnya sangat sulit, ditambah harga yang tidak menentu. Kami berharap pemerintah menghadirkan solusi nyata,” ungkapnya.

Asep Sufaal ” “Petani sudah siap dan tidak ragu menanam. Tapi menjualnya sangat sulit, ditambah harga yang tidak menentu. Kami berharap pemerintah menghadirkan solusi nyata”

Saeful Siap Koordinasi dengan Bulog dan Dinas Pertanian

Menanggapi keluhan tersebut, Saeful Bachri menyatakan bahwa ia akan segera mengomunikasikan permasalahan para petani kepada dinas pertanian baik di tingkat kabupaten maupun provinsi.

“Saya akan teruskan persoalan ini kepada dinas pertanian. Pemerintah seharusnya lebih dulu memastikan pasarnya. Jangan hanya melihat harga yang tinggi, sementara konsumsi ketan tidak serutin beras biasa,” jelas Saeful.

Ia berharap koordinasi tersebut bisa membuka jalan agar para petani ketan di Pacet tidak lagi kesulitan menjual hasil panennya sehingga pendapatan mereka dapat meningkat.

Baca Juga :  Saeful Bachri Dorong Gerakan Pramuka Sebagai Motor Dalam Membangun Desa Wisata

Politisi Partai Demokrat ini juga berencana menanyakan kepada Bulog Jawa Barat terkait kemungkinan lembaga tersebut menampung beras ketan. Jika Bulog membuka peluang, maka petani akan memiliki saluran pemasaran yang lebih pasti.

“Saya akan cek ke Bulog apakah mereka menerima beras ketan atau tidak. Jika iya, kita akan komunikasikan supaya bisa ditampung,” ujarnya.

Saeful juga mengingatkan agar kasus seperti gagalnya pemasaran porang yang terjadi beberapa waktu lalu tidak terulang kembali.

Pelaku UMKM Sablon Butuh Akses Permodalan

Dalam kesempatan reses yang sama, seorang pelaku UMKM jasa sablon, Nurdin Hidayat (48), turut menyampaikan aspirasinya. Ia mengaku membutuhkan dukungan modal agar produksinya dapat terus berjalan.

“Saya sangat membutuhkan bantuan modal untuk mempertahankan usaha. Selama ini saya belum pernah mendapatkan bantuan pemerintah,” tuturnya.

Selain permodalan, Nurdin juga berharap adanya pelatihan bagi UMKM padat karya seperti usaha sablon, karena pelatihan yang digelar sejauh ini lebih banyak menyasar usaha kuliner seperti cireng atau seblak.

Menanggapi hal ini, Saeful menyampaikan bahwa dirinya akan mendorong bank daerah untuk memberikan bantuan kepada pelaku UMKM. Ia menyebut bahwa di Kabupaten Bandung tersedia program bantuan modal tanpa agunan dan bunga di BPR Kerta Raharja, serta akses KUR di Bank BJB.

Menurut Saeful, pengajuan bantuan modal akan lebih mudah jika pelaku usaha tergabung dalam kelompok. “Jika membentuk kelompok, bantuan bisa mencapai Rp20 juta,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa baik aspirasi petani ketan maupun UMKM bidang sablon akan segera ia komunikasikan kepada instansi terkait agar pertumbuhan ekonomi masyarakat Pacet dan Kabupaten Bandung terus bergerak positif, sehingga kesejahteraan warga turut meningkat.*

Berita Terkait

Dari Rampak Kendang Hingga Gotong Royong, Saeful Bachri Sapa Warga di RW 12 Baleendah
Masjid Tempat Pemulasaraan Kanaya Whu Bakal Dipugar dan Berganti Nama Menjadi Tajug Kanaya
AHY MACAN CUP 2026 Digelar, Dede Yusuf Dorong Lahirnya Atlet Voli Putri Berprestasi
Pemprov Jabar Kirim 100 Orang Kafilah untuk Ikuti MTQ Nasional XXXI 2026
Lewat SADA Jabar, Sekda Herman Dorong Kepala Desa Aktif Tingkatkan IPM
SADA JABAR Jadi Basis Data Terpadu Jabar, Pemerintah Dorong Pelayanan Lebih Tepat Sasaran
Pemprov Minta Pemkab dan Pemkot Segera Tindaklanjuti Keluhan Data DTSEN
Lapangan Gasibu Ditutup Sementara Mulai 1 September 2026, Revitalisasi Ditargetkan Rampung Awal 2027

Berita Terkait

Senin, 14 September 2026 - 14:03 WIB

Dari Rampak Kendang Hingga Gotong Royong, Saeful Bachri Sapa Warga di RW 12 Baleendah

Senin, 14 September 2026 - 13:50 WIB

Masjid Tempat Pemulasaraan Kanaya Whu Bakal Dipugar dan Berganti Nama Menjadi Tajug Kanaya

Minggu, 13 September 2026 - 09:04 WIB

AHY MACAN CUP 2026 Digelar, Dede Yusuf Dorong Lahirnya Atlet Voli Putri Berprestasi

Jumat, 11 September 2026 - 15:46 WIB

Pemprov Jabar Kirim 100 Orang Kafilah untuk Ikuti MTQ Nasional XXXI 2026

Kamis, 10 September 2026 - 10:42 WIB

Lewat SADA Jabar, Sekda Herman Dorong Kepala Desa Aktif Tingkatkan IPM

Berita Terbaru