Infobandungnews – Dua sekolah favorit di Kota Bandung, yaitu SMAN 3 Bandung dan SMAN 5 Bandung, ditetapkan sebagai bagian dari program Sekolah Manusia Unggul (Maung) yang digagas Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Berbeda dengan 27 kabupaten/kota lainnya yang umumnya hanya memiliki satu SMA dalam program tersebut, Kota Bandung mendapat dua sekolah sekaligus sebagai peserta program unggulan itu.
Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat menjelaskan, SMAN 3 Bandung dan SMAN 5 Bandung nantinya akan menggunakan nama baru “Sekolah Maung”, sesuai dengan Keputusan Gubernur Jawa Barat Nomor:/HK.02.03/SEKRE.
Meski demikian, perubahan nama tersebut saat ini masih menunggu persetujuan dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia.
Program Sekolah Maung (Manusia Unggul) sendiri merupakan gagasan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang dirancang untuk melahirkan generasi muda unggul, berkarakter, serta memiliki daya saing tinggi.
Melalui program ini, kedua sekolah tersebut diharapkan kembali menyandang status sebagai sekolah unggulan, setelah sebelumnya predikat itu memudar akibat penerapan sistem zonasi. Sebagai sekolah legendaris, SMAN 3 dan SMAN 5 Bandung berdiri dalam satu kompleks gedung bersejarah peninggalan Belanda yang telah ada sejak 1916.
Dari kedua sekolah ini telah lahir banyak tokoh penting, mulai dari teknokrat, seniman, pengusaha, hingga pejabat publik. Sejumlah nama alumni yang dikenal luas antara lain Ridwan Kamil, Atalia Praratya, Muhammad Farhan, Purwacaraka, Elfasecoria, Didi Petet, Armida Alisjahbana, hingga Betti Alisjahbana.
Program Sekolah Maung tidak berfokus pada pembangunan gedung baru, melainkan meningkatkan kualitas 41 SMA/SMK unggulan yang telah ada di berbagai daerah. Setiap kabupaten/kota akan memiliki satu SMA dan satu SMK dalam program ini, dengan pengecualian Kota Bandung yang mendapatkan dua SMA, yakni SMAN 3 dan SMAN 5.
Implementasi Sekolah Maung dijadwalkan dimulai pada tahun ajaran 2026/2027. Secara keseluruhan, Pemerintah Provinsi Jawa Barat akan mentransformasi 41 sekolah negeri—terdiri atas 28 SMAN dan 13 SMKN—menjadi institusi pendidikan unggulan dengan pendekatan yang lebih komprehensif.
Sekolah Maung dirancang tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga memberi ruang besar bagi prestasi non-akademik. Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi menegaskan bahwa sekolah ini akan menjadi wadah bagi siswa dengan beragam potensi.
“Dua hal, prestasi akademik dan prestasi non-akademik. Jadi di Sekolah Maung nanti bukan hanya yang akademiknya baik, tetapi yang berprestasi di bidang olahraga, seni, dan industri kreatif tetap bisa sekolah di situ,” ujar pria yang akrab disapa KDM tersebut.
Ia juga menambahkan bahwa program ini memaksimalkan sekolah-sekolah unggulan yang telah memiliki reputasi kuat di tiap daerah, seperti SMAN 3 Bandung atau SMAN 1 Subang, melalui pembaruan sistem pembelajaran. Nantinya, Sekolah Maung akan menerapkan pembagian kelas yang lebih spesifik sesuai minat dan bakat siswa.
“Nanti kelasnya jadi kelas industri kreatif fokusnya, ada kelas olahraga, dan kelas seni,” tambahnya.
Sebagai upaya mewujudkan program tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Barat berencana memperkuat berbagai sarana dan prasarana pendidikan, mulai dari penambahan ruang belajar, penggunaan teknologi pembelajaran modern, hingga peningkatan kompetensi para tenaga pengajar.
Di Sekolah Maung, setiap ruang kelas nantinya hanya akan diisi maksimal 32 siswa guna menciptakan suasana belajar yang lebih efektif, intensif, dan terarah. Selain itu, kurikulum akan disusun menyesuaikan kebutuhan serta tantangan masa depan peserta didik, sedangkan mekanisme penerimaan siswa akan diatur secara resmi melalui Peraturan Gubernur (Pergub).
Program Sekolah Maung sendiri difokuskan bagi siswa berprestasi agar mereka dapat mengembangkan kemampuan dan potensi yang dimiliki secara lebih optimal.









