Infobandungnews – Fenomena unik muncul di Kabupaten Garut. Sejumlah fotografer lokal justru menjadikan kondisi jalan rusak sebagai objek karya visual yang dinilai memiliki nilai estetika tersendiri. Bagi mereka, memotret kerusakan jalan bukan sekadar dokumentasi, tetapi juga cara menyampaikan pesan sosial melalui karya fotografi.
Aktivitas tersebut kerap dilakukan saat waktu ngabuburit di bulan Ramadan. Para fotografer memilih sejumlah titik jalan yang rusaknya cukup parah untuk dijadikan latar pengambilan gambar. Beberapa lokasi yang sering menjadi sasaran lensa kamera antara lain di ruas jalan Banjarwangi, Singajaya, dan Peundeuy.
Di lokasi-lokasi tersebut, kondisi jalan yang dipenuhi lubang dan kubangan air kerap menjadi latar unik. Para fotografer biasanya menunggu momen ketika pengendara sepeda motor maupun mobil melintas di antara genangan air atau lubang besar di badan jalan. Bagi mereka, situasi itu menghadirkan komposisi visual yang kuat sekaligus menggambarkan realitas kehidupan masyarakat setempat.
Salah seorang fotografer, Maman Suryaman, mengatakan bahwa foto jalan rusak memiliki nilai artistik tersendiri. Menurutnya, melalui gambar, mereka ingin menyampaikan pesan yang mungkin sulit dijelaskan hanya dengan kata-kata.
“Bagi kami, foto jalan rusak punya nilai estetika tersendiri. Lewat gambar itu kami ingin menyampaikan momen dan kondisi yang terjadi di lapangan,” ujarnya, Kamis (5/3/2026).
Maman menambahkan, kegiatan tersebut juga menjadi ajang berkumpul bagi para fotografer dan kreator konten di Garut. Mereka biasanya menghabiskan waktu bersama sambil menunggu momen terbaik untuk diabadikan.
Meski terlihat kreatif, fenomena ini juga menjadi cerminan persoalan lama di Garut. Sejumlah ruas jalan berstatus jalan kabupaten diketahui mengalami kerusakan cukup parah dan kerap dikeluhkan warga karena minimnya perawatan.
Tak jarang, jalan-jalan tersebut terlihat seperti aliran sungai kering dengan lubang besar yang memanjang. Kondisi itu membuat pengguna jalan harus ekstra hati-hati saat melintas.
Bagi para fotografer, potret jalan rusak bukan hanya karya visual, tetapi juga bentuk kritik sosial yang disampaikan melalui lensa kamera—menggambarkan realitas yang setiap hari dihadapi masyarakat.









