Saeful Bachri Dorong Pengembangan Kakao di Kabupaten Bandung, Petani Harus Terhubung dengan Industri

- Jurnalis

Senin, 26 Oktober 2026 - 13:27 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Infobandungnews – Kabupaten Bandung – Anggota Komisi II DPRD Provinsi Jawa Barat, H. Saeful Bachri, S.H., M.A.P., menggelar kegiatan Sosialisasi Pengembangan Budidaya Kakao di Jawa Barat yang melibatkan Tim Kerja Penyuluh Kabupaten Bandung dan para penyuluh pertanian se-Kabupaten Bandung. Kegiatan tersebut degelar sekaligus dalam rangka kegiatan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Tahun 2026 yang berlangsung di Desa Bojongsari, Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung, Jumat (23/10/2026).

Kegiatan sosialisasi pengembangan budidaya kakao ini menjadi bagian dari upaya mendorong pengembangan komoditas kakao sebagai salah satu potensi perkebunan yang dapat meningkatkan perekonomian daerah sekaligus kesejahteraan petani.

Hadir sebagai narasumber, Anton Nurholis. SP., MP, dari Balai Pengembangan dan Produksi Benih Perkebunan (BPPBP) Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat, Ir. H.M. Ikhsan selaku ahli teknis budidaya kakao, H. Rully Yendri, M.BA. dari Barry Callebaut Bandung (PT Papandayan Cocoa Industries), serta Ketua Konsorsium Kakao Kabupaten Bandung, Edi Rahayu.

Dalam pemaparannya, perwakilan Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat, Anton Nurholis. SP., MP, menjelaskan bahwa pengembangan kakao di Kabupaten Bandung perlu dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan ketersediaan benih dan kemampuan memenuhi kebutuhan petani.

“Pengembangan Kakao di Kabupaten Bandung pada bulan ini baru diusulkan dan jika melihat pengalaman kami pada tahun 2020, permohonan terkait kebutuhan benih kakao ternyata berbanding terbalik dengan ketersediaan yang ada. Jujur saja, meskipun pembangunan fasilitas pembibitan dilakukan, jumlahnya belum akan mampu memenuhi seluruh permohonan dari rekan-rekan petani. Oleh karena itu, pemenuhan kebutuhan benih akan dilakukan secara bertahap sesuai dengan kemampuan dan ketersediaan yang ada. Bahkan, untuk mencukupi kebutuhan tersebut, kita mungkin masih perlu mendatangkan benih dari luar daerah.” Ungkap Anton.

Kepala Balai Pengembangan dan Produksi Benih Perkebunan (BPPBP) Jawa Barat Anyon Nurholis, SP., MP

Ia juga mengingatkan para petani yang telah mengembangkan kakao agar terus memperhatikan mutu hasil produksi. Menurutnya, kualitas biji kakao menjadi salah satu faktor yang berpengaruh terhadap nilai jual dan kemampuan produk bersaing di pasar.

“Bagi para petani yang sudah membudidayakan kakao, kami berharap kualitas hasil produksinya dapat terus ditingkatkan. Sebab, kualitas menjadi salah satu faktor penting yang menentukan harga jual dan daya saing produk kakao di pasaran. Kami berharap kegiatan sosialisasi tersebut dapat menjadi awal penguatan pengembangan kakao di Kabupaten Bandung melalui kolaborasi antara pemerintah, penyuluh, dan petani.” Harapnya.

“Semoga kegiatan sosialisasi ini menjadi momentum bersejarah bagi perkembangan kakao, khususnya di Kabupaten Bandung. Semoga sinergi antara pemerintah, petugas lapangan, dan para petani dapat terus terjalin demi kemajuan perkebunan kakao dan peningkatan kesejahteraan petani.” Tutup Anton.

Saeful Bachri: Pengembangan Kakao Harus Disertai Kepastian Pasar

Sementara itu anggota Komisi II DPRD Provinsi Jawa Barat Saeful Bachri.S.H.,M.A.P menegaskan bahwa pengembangan sektor perkebunan di Jawa Barat memiliki landasan kebijakan melalui Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 5 Tahun 2020 tentang penyelenggaraan Perkebunan. Menurutnya, potensi komoditas unggulan daerah perlu dioptimalkan melalui program yang terencana dan berorientasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Ia menilai, pengembangan perkebunan tidak cukup hanya dilakukan dengan mendorong petani menanam komoditas tertentu. Lebih dari itu, perlu ada perencanaan menyeluruh yang menghubungkan kegiatan budidaya dengan kebutuhan pasar dan industri pengolahan.

“Potensi perkebunan Kabupaten Bandung sesungguhnya sangat besar. Namun, pengembangannya tidak cukup hanya berfokus pada kegiatan budidaya atau mendorong petani untuk menanam. Kita perlu melihat secara menyeluruh bagaimana hasil pertanian tersebut dapat terserap oleh industri dan memberikan nilai tambah bagi para petani.” Jelas Saeful Bachri.

Menurutnya, kepastian pasar harus menjadi pertimbangan utama sebelum program pengembangan komoditas dijalankan. Hal tersebut penting agar petani tidak menanggung risiko kerugian akibat hasil panen yang sulit dipasarkan.

“Pengalaman selama ini mengajarkan bahwa sebelum mengajak petani mengembangkan suatu komoditas, kita harus memastikan terlebih dahulu siapa yang akan menerima dan membeli hasil produksinya. Jangan sampai petani sudah menanam, mengeluarkan biaya, dan menunggu masa panen, tetapi ketika hasilnya tersedia justru tidak ada kepastian pasar.” Paparnya.

Saeful menambahkan, keberhasilan pengembangan komoditas perkebunan memerlukan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari penyedia benih, pendamping budidaya, petani, pelaku usaha pascapanen, hingga industri yang membutuhkan bahan baku.

“Karena itu, pengembangan komoditas harus dimulai dengan membangun keterhubungan antara petani, penyedia bibit, pendamping budidaya, pengolahan pascapanen, hingga industri sebagai pengguna hasil produksi. Dengan demikian, seluruh rantai usaha dapat berjalan secara berkesinambungan.” Lanjut Saeful Bachri.

Anggota Komisis II DPRD Provinsi Jawa Barat, Saeful Bachri. S.H., M.A.P

Industri Pengolahan Kakao Harus Memberikan Manfaat bagi Petani Lokal

Saeful menyoroti keberadaan industri pengolahan kakao di kawasan Kabupaten Bandung yang memiliki kebutuhan bahan baku dalam jumlah besar. Menurutnya, kondisi tersebut merupakan peluang yang seharusnya dapat dimanfaatkan untuk memperkuat posisi petani lokal dalam rantai pasok industri.

Baca Juga :  Dari Rampak Kendang Hingga Gotong Royong, Saeful Bachri Sapa Warga di RW 12 Baleendah

Ia mempertanyakan masih besarnya ketergantungan industri terhadap pasokan biji kakao dari luar daerah, seperti Sulawesi, bahkan dari luar negeri, sementara Jawa Barat memiliki potensi perkebunan yang dapat dikembangkan.

“Hal ini perlu menjadi perhatian bersama. Jangan sampai industri tumbuh dan berkembang di sekitar kita, tetapi petani lokal belum memperoleh manfaat optimal dari keberadaan industri tersebut.

Kita perlu membangun pola kemitraan yang mempertemukan kebutuhan industri dengan kemampuan produksi petani. Pemerintah daerah harus mampu mengidentifikasi potensi yang tersedia, memetakan kebutuhan pasar, serta mendorong agar hasil perkebunan masyarakat dapat masuk ke dalam rantai pasok industri.” Jelasnya.

Ia menegaskan bahwa pertumbuhan industri idealnya berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat di sekitarnya. Karena itu, kemitraan antara petani dan perusahaan perlu diperkuat agar hasil perkebunan lokal dapat memenuhi kebutuhan industri secara berkelanjutan.

Prinsip serupa, lanjutnya, dapat diterapkan pada sektor peternakan. Kabupaten Bandung memiliki banyak peternak ayam, sementara industri pengolahan pangan membutuhkan pasokan bahan baku secara rutin. Hubungan yang kuat antara produsen lokal dan industri akan membuka peluang ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat.

Rencana Pengembangan 80.000 Bibit Kakao

Dalam kegiatan tersebut, Saeful juga menyoroti rencana penyediaan sekitar 80.000 pohon atau bibit kakao untuk petani di Kabupaten Bandung. Program ini diharapkan menjadi langkah awal untuk memperluas pengembangan kakao secara terarah.

Namun, ia mengingatkan bahwa keberhasilan program tidak dapat diukur hanya dari jumlah bibit yang disalurkan. Kesesuaian lahan, mutu benih, teknik budidaya, pendampingan penyuluh, waktu tanaman mulai menghasilkan, hingga kepastian pembeli harus menjadi bagian dari perencanaan.

Petani juga perlu memperoleh informasi yang memadai mengenai wilayah yang sesuai untuk penanaman kakao, pola pemeliharaan tanaman, perkiraan masa produktif, serta mekanisme pemasaran dan penentuan harga jual.

Saeful berharap para ahli dan praktisi kakao dapat memberikan pendampingan teknis secara langsung kepada petani. Dengan begitu, bantuan bibit dapat disertai pengetahuan dan keterampilan yang memadai untuk menghasilkan produk berkualitas.

Pengembangan Perkebunan Harus Sejalan dengan Konservasi Lingkungan

Selain kakao, Kabupaten Bandung dikenal memiliki komoditas kopi unggulan yang telah berkembang dan memiliki peluang pasar hingga ke luar daerah maupun ekspor.

Saeful menilai pengembangan kakao dan kopi perlu dilakukan dengan memperhatikan keseimbangan antara kepentingan ekonomi dan kelestarian lingkungan. Pengelolaan lahan perkebunan, terutama di kawasan pegunungan, harus disesuaikan dengan kondisi tanah, ketinggian, serta karakteristik wilayah.

Dengan perencanaan yang tepat, sektor perkebunan tidak hanya menjadi sumber pendapatan masyarakat, tetapi juga dapat mendukung pelestarian lingkungan dan keberlanjutan sumber daya alam.

Karena itu, pengembangan komoditas perkebunan perlu memperhatikan kesesuaian tanaman dengan kondisi lahan agar produktivitas dapat meningkat tanpa mengabaikan fungsi ekologis kawasan.

Koperasi dan Penanganan Pascapanen Perlu Diperkuat

Persoalan lain yang menjadi perhatian adalah penguatan pemasaran dan penanganan pascapanen. Saeful menegaskan bahwa petani perlu mendapatkan kepastian mengenai jalur penjualan hasil produksi sejak awal pengembangan komoditas.

Koperasi dinilai dapat mengambil peran strategis dalam menghimpun hasil panen, menjaga konsistensi kualitas, serta menjembatani petani dengan perusahaan pengolahan maupun pembeli lainnya.

Di samping itu, petani perlu mendapatkan pembekalan mengenai tahapan pascapanen, seperti pemilahan biji, fermentasi sesuai kebutuhan, pengeringan, dan pengendalian mutu berdasarkan standar industri.

Khusus untuk kakao, penanganan pascapanen menjadi aspek penting yang turut menentukan kualitas biji dan nilai jualnya. Oleh sebab itu, peningkatan kapasitas petani perlu berjalan seiring dengan pengembangan budidaya.

Saeful berharap jaringan koperasi, pelaku usaha, dan industri dapat dimanfaatkan untuk membangun sistem pemasaran yang lebih terarah sehingga petani memiliki akses pasar yang lebih luas.

H. Rully Yendri. MBA (Kiri) dari Barry Callebaut Bandung (PT Papandayan Cocoa Industries) dan Ir. H. M. Ikhsan selaku narasumber Kegiatan Sosialisasi Pengembangan Budidaya Kakao di Jawa Barat. Jumat (23/10/2026).

Kolaborasi untuk Meningkatkan Kesejahteraan Petani

Melalui kegiatan sosialisasi ini, Saeful Bachri berharap pengembangan kakao dan komoditas perkebunan lainnya di Kabupaten Bandung dapat dilakukan secara terintegrasi, mulai dari penyediaan benih hingga pemasaran hasil produksi.

Menurutnya, keberhasilan program perkebunan bukan semata-mata ditentukan oleh bertambahnya jumlah tanaman atau luas lahan yang ditanami, melainkan juga oleh kemampuan menghasilkan produk berkualitas, memperoleh nilai tambah, dan memberikan pendapatan yang lebih baik bagi petani.

Ia mendorong sinergi antara pemerintah daerah, penyuluh, petani, koperasi, akademisi, dan pelaku industri agar potensi perkebunan Kabupaten Bandung dapat dikembangkan secara optimal.

Dengan kerja sama yang berkelanjutan, pengembangan kakao diharapkan mampu membuka peluang usaha baru, memperkuat rantai pasok industri, meningkatkan daya saing produk perkebunan lokal, serta menjadi salah satu penggerak ekonomi daerah yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Berita Terkait

PA GMNI Jawa Barat Periode 2026–2031 Resmi Dilantik, Tegaskan Komitmen Kawal Pembangunan Berpihak kepada Rakyat
Pemprov Jabar Bentuk Tim Pemburu Anak Tidak Sekolah hingga Tingkat Desa dan Kelurahan
Jalan Rusak Sejak 2012, Warga Cintajaya Ciamis Temui Dedi Mulyadi dan Bahas Solusi Perbaikan
Saeful Bachri Ingatkan Bahaya Judol, Pinjol, dan Kecanduan Gadget bagi Generasi Muda
Bapenda Jabar Relokasi Samsat Pajajaran ke Pusdai, Utamakan Keamanan dan Kenyamanan Wajib Pajak
Saeful Bachri Dorong Program Berkelanjutan untuk Atasi Stunting dan Tampung Aspirasi Masyarakat
Pinjaman Rp3,4 Triliun Pemprov Jabar Dikabarkan Tak Direkomendasikan Kemendagri, Opsi Alternatif Disiapkan
Atasi Banjir Bandung Raya, Pemprov Jabar Siapkan Danau Retensi dan Sodetan pada 2027

Berita Terkait

Senin, 26 Oktober 2026 - 13:27 WIB

Saeful Bachri Dorong Pengembangan Kakao di Kabupaten Bandung, Petani Harus Terhubung dengan Industri

Senin, 26 Oktober 2026 - 12:24 WIB

PA GMNI Jawa Barat Periode 2026–2031 Resmi Dilantik, Tegaskan Komitmen Kawal Pembangunan Berpihak kepada Rakyat

Kamis, 22 Oktober 2026 - 07:33 WIB

Pemprov Jabar Bentuk Tim Pemburu Anak Tidak Sekolah hingga Tingkat Desa dan Kelurahan

Rabu, 21 Oktober 2026 - 07:48 WIB

Jalan Rusak Sejak 2012, Warga Cintajaya Ciamis Temui Dedi Mulyadi dan Bahas Solusi Perbaikan

Selasa, 20 Oktober 2026 - 07:52 WIB

Saeful Bachri Ingatkan Bahaya Judol, Pinjol, dan Kecanduan Gadget bagi Generasi Muda

Berita Terbaru