Infobandungnews — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Pemerintah Provinsi Jawa Barat kembali mendorong penguatan ekonomi daerah melalui Program Pengembangan Ekonomi Daerah (PED). Kali ini, pengembangan difokuskan pada sektor peternakan ayam petelur dengan memperluas akses permodalan, memperkuat mata rantai usaha, sekaligus memperbesar peluang pemasaran bagi para peternak.
Upaya tersebut dikembangkan melalui Program EGG (Endog Jabar Go Global) yang mengusung tema “Ti Lembur ka Global, Ngawangun Ekonomi Jabar Istimewa”. Program ini dirancang dengan pola kemitraan terpadu atau closed loop, mulai dari sektor hulu hingga hilir.
Program EGG menjadi kelanjutan dari pengembangan komoditas unggulan melalui PED di Jawa Barat. Sebelumnya, program serupa telah diarahkan pada komoditas domba pada 2024 dan sapi perah pada 2025.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menyampaikan bahwa pengembangan potensi ekonomi daerah membutuhkan kerja sama dari berbagai pihak. Hal tersebut disampaikannya dalam kegiatan Implementasi Pengembangan Komoditas Unggulan Ayam Petelur melalui Layanan Inklusi Keuangan di Provinsi Jawa Barat Tahun 2026, yang berlangsung di Kantor Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Barat, Jumat.
“Pembangunan ekonomi daerah membutuhkan sinergi antara pemerintah, industri jasa keuangan, dunia usaha, masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya. Melalui kolaborasi yang kuat, potensi komoditas unggulan Jawa Barat dapat terus dikembangkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah,” ujar Dian.
Program EGG mencakup sekitar 4.565 pelaku usaha ayam petelur, baik yang menjalankan usaha secara perorangan maupun berbentuk perseroan. Para pelaku usaha tersebut tersebar terutama di 21 kawasan sentra peternakan ayam petelur di Jawa Barat.
Melalui program ini, akses terhadap pembiayaan perbankan diproyeksikan mencapai sekitar Rp456,5 miliar. Pembiayaan tersebut diharapkan dapat menopang pengembangan kapasitas usaha sekaligus meningkatkan pendapatan peternak.
Namun, Dian menegaskan bahwa pembiayaan saja tidak cukup untuk memastikan keberlanjutan usaha peternakan.
“Pembiayaan perlu disertai pendampingan, literasi keuangan, akses pasar, penguatan kelembagaan usaha, pemanfaatan teknologi, dan manajemen risiko agar dapat meningkatkan produktivitas dan memperkuat usaha peternak,” ujar Dian.
Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat Herman Suryatman turut mengapresiasi sinergi yang dibangun OJK dan Pemprov Jabar dalam mengembangkan sektor ayam petelur sebagai salah satu bagian dari penguatan ekonomi produktif daerah.
“Kami berharap pengembangan komoditas ayam petelur tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi terus dikawal dan dikembangkan secara berkelanjutan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan peternak,” ujar Herman Suryatman.
Konsep Program EGG tidak hanya mempertemukan peternak dengan lembaga pembiayaan. Program ini juga diarahkan untuk mengintegrasikan proses produksi dengan pasar serta mempertemukan peternak dengan offtaker, sehingga rantai usaha ayam petelur dapat diperkuat secara menyeluruh.
Kepala OJK Provinsi Jawa Barat Darwisman mengatakan pola closed loop menjadi salah satu fondasi utama dalam pelaksanaan Program EGG.
“Program EGG kami arahkan untuk memastikan akses keuangan berjalan beriringan dengan kepastian pasar, pendampingan, dan penguatan rantai nilai. Dengan demikian, produktivitas dan skala usaha peternak dapat terus berkembang,” ujar Darwisman.
Selain aspek pembiayaan, Program EGG juga memperluas keterhubungan peternak dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Langkah tersebut ditujukan untuk menciptakan kepastian penyerapan hasil produksi sekaligus mendukung kebutuhan telur dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Jawa Barat.
Kemitraan tersebut diperkirakan dapat menciptakan efisiensi anggaran sekitar Rp4,23 triliun per tahun, melalui penyediaan telur dengan harga yang diproyeksikan sekitar 10 hingga 15 persen lebih rendah dibandingkan harga pasar.
Dari sisi pemasaran, OJK dan Pemprov Jabar juga mendorong agar produk peternakan ayam tidak hanya mengandalkan pasar domestik. Pelaku usaha diberikan ruang untuk memperluas pemasaran ke berbagai wilayah di luar Jawa Barat hingga pasar internasional.
Data semester I 2026 menunjukkan nilai ekspor fertilized eggs for incubation of fowl atau telur tetas dari Jawa Barat mencapai US$550,23 ribu. Angka tersebut meningkat 513 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025. Sejumlah negara yang menjadi tujuan ekspor antara lain Myanmar, Brunei Darussalam, dan Malaysia.
Pengembangan sektor hilir juga menjadi bagian dari strategi memperbesar nilai ekonomi komoditas telur. Produk telur dapat diolah menjadi berbagai produk turunan seperti tepung telur, produk sarapan Breggfast, pupuk berbahan dasar cangkang telur, hingga nutrisi untuk hewan peliharaan.
Diversifikasi tersebut diharapkan mampu memperluas pangsa pasar sekaligus menjadi salah satu solusi untuk menekan potensi kerugian peternak, mengingat telur ayam memiliki masa penyimpanan yang relatif terbatas.
Implementasi Program EGG juga ditandai dengan penguatan komitmen antara OJK, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, industri jasa keuangan, peternak, eksportir, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Sejumlah agenda dilaksanakan dalam rangkaian kegiatan tersebut, di antaranya peresmian ekspor day-old chick (DOC) dari salah satu eksportir asal Jawa Barat, PT Intama Taat Anugerah, menuju Timor-Leste. Selain itu, dilakukan pula penandatanganan Nota Kesepahaman Kerja Sama Pengembangan Peternak Ayam Petelur di Jawa Barat.
Kegiatan tersebut dihadiri Anggota Komisi XI DPR RI Daerah Pemilihan Jawa Barat V Kabupaten Bogor Mulyadi, Anggota Komisi II DPRD Provinsi Jawa Barat Saeful Bachri, sejumlah pimpinan instansi vertikal di Jawa Barat, jajaran pimpinan industri jasa keuangan, serta sekitar 150 perwakilan peternak.
Melalui Program EGG, sinergi antara sektor keuangan dan sektor riil terus diperkuat untuk mengembangkan ayam petelur sebagai salah satu komoditas unggulan Jawa Barat.
Integrasi antara akses pembiayaan, peningkatan produksi, pendampingan usaha, penguatan rantai pasok, hingga perluasan pasar diharapkan mampu meningkatkan produktivitas serta pendapatan peternak. Pada saat yang sama, skema tersebut juga diarahkan untuk menciptakan nilai ekonomi yang lebih besar bagi daerah.
Ukuran keberhasilan program ke depan tidak hanya dilihat dari bertambahnya jumlah peternak yang memperoleh pembiayaan. Peningkatan produktivitas, semakin kuatnya rantai pasok, meluasnya pasar, serta pertumbuhan pendapatan peternak juga menjadi indikator penting dalam keberlanjutan Program EGG.
Dengan kolaborasi lintas sektor yang dilakukan secara konsisten, OJK, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, dan seluruh pemangku kepentingan mendorong komoditas ayam petelur agar mampu menjadi bagian dari penguatan ekonomi produktif Jawa Barat yang inklusif dan kompetitif, sekaligus menciptakan nilai tambah dari tingkat lembur hingga pasar global.
#OJK #JawaBarat #PemprovJabar #EndogJabarGoGlobal #EGG #PeternakAyamPetelur #AyamPetelur #EkonomiJabar #EkonomiDaerah #UMKMJabar #InklusiKeuangan #MBG #PeternakanJabar #JabarIstimewa









