Infobandungnews – CIMAHI — Wali Kota Cimahi Ngatiyana menempatkan percepatan pengoperasian Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Santion dan TPST Lebak Saat sebagai agenda prioritas pemerintah daerah. Ia menginstruksikan seluruh perangkat daerah terkait untuk segera mengambil langkah konkret agar kedua fasilitas tersebut dapat beroperasi secara optimal, aman, dan berkelanjutan di tengah tingginya volume sampah di Kota Cimahi.
Arahan tersebut disampaikan Ngatiyana dalam kegiatan Implementation Support Mission (ISWMP) yang berlangsung di Kota Cimahi, Jumat (23/10/2026).
Dalam pertemuan itu, sejumlah kesepakatan dan langkah lanjutan dirumuskan guna mempercepat operasional kedua TPST. Upaya ini mendapat dukungan dari Kementerian PUPR, Kementerian Dalam Negeri, World Bank, serta sejumlah pemangku kepentingan yang terlibat dalam penguatan sistem pengelolaan sampah.
Ngatiyana menjelaskan, Cimahi menghadapi persoalan persampahan yang cukup kompleks. Luas wilayah yang terbatas, tingginya kepadatan penduduk, serta besarnya volume sampah menjadi tantangan yang harus ditangani melalui sistem pengelolaan yang terintegrasi. Proses tersebut mencakup pemilahan sampah dari rumah tangga hingga pengolahan dan penanganan residu agar tidak menimbulkan beban lingkungan.
Ia menekankan bahwa keberhasilan operasional TPST tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan bangunan dan mesin. Berbagai aspek pendukung juga harus dipersiapkan, mulai dari kompetensi sumber daya manusia, kelembagaan, anggaran operasional, perawatan peralatan, standar operasional prosedur (SOP), keselamatan kerja, hingga kepastian pasokan sampah.
Kesiapan seluruh komponen tersebut dinilai penting agar fasilitas dapat beroperasi secara efektif dan sesuai dengan kapasitas yang direncanakan.
“Kita harus memastikan ketersediaan anggaran operasional dan pemeliharaan, kesiapan operator, keselamatan kerja, serta kepastian pasokan sampah sesuai kapasitas,” tegas Ngatiyana.
Ia pun meminta organisasi perangkat daerah (OPD) terkait segera merumuskan dan melaksanakan rencana aksi yang terukur. Dengan demikian, berbagai hambatan teknis maupun administratif dapat segera diselesaikan tanpa mengganggu target pengoperasian kedua TPST.
Selain kesiapan fasilitas, penanganan residu atau sisa pengolahan sampah juga menjadi perhatian pemerintah kota. Ngatiyana menyampaikan bahwa Cimahi membutuhkan lima unit kompaktor untuk menunjang proses pengangkutan residu tersebut.
Di sisi lain, produk hasil pengolahan sampah harus memenuhi standar kualitas dan memiliki kepastian pemanfaatan. Untuk itu, diperlukan kerja sama dengan pihak pembeli atau off-taker agar hasil pengolahan dapat terserap dan memberikan manfaat, bukan sekadar berhenti pada proses produksi.
Ngatiyana juga mengingatkan pentingnya penanganan sampah dari sumbernya. Pemilahan sejak tingkat rumah tangga menjadi langkah mendasar yang harus dibarengi dengan sistem pengumpulan dan pengangkutan sampah terpilah secara konsisten.
Menurutnya, perencanaan teknis masih perlu disempurnakan melalui validasi data dan penyamaan persepsi antara pihak kelurahan dengan Dinas Lingkungan Hidup. Hal ini mencakup kejelasan peran Lembaga Pengelola Sampah (LPS) serta keterhubungannya dengan sistem pelayanan persampahan di tingkat kota.
Sebagai langkah memperkuat koordinasi di wilayah, Pemerintah Kota Cimahi membentuk tim pengelola sampah di setiap kelurahan. Tim tersebut diharapkan dapat melakukan pembaruan data secara berkala, meningkatkan kualitas pelayanan, serta memastikan sampah yang telah dipilah dapat terintegrasi dengan sistem pengelolaan kota.
Pemkot Cimahi turut mengoptimalkan program Sabu Jagat atau Sapu Bersih Jagat melalui gerakan kepedulian lingkungan yang melibatkan aparatur sipil negara (ASN).
Dalam pelaksanaannya, sebanyak 1.728 ASN diterjunkan untuk mendukung pendataan, pengelolaan sampah, dan edukasi masyarakat secara langsung dari rumah ke rumah melalui pendekatan door to door dengan metode by name by address.
Ngatiyana berharap, dukungan melalui ISWMP dapat memperkuat upaya pembenahan sistem persampahan di Cimahi sekaligus menjadikan kota tersebut sebagai percontohan bagi daerah perkotaan berwilayah kecil dengan tingkat kepadatan penduduk yang tinggi.
“Terima kasih ISWMP yang telah memberikan perhatian khusus kepada Kota Cimahi. Penanganan sampah ini diharapkan menjadi pilot project untuk kota kecil yang berhasil dalam pengelolaan sampahnya.”
Ia juga berharap dukungan pemerintah pusat dan seluruh pihak terkait dapat terus berlanjut hingga proyek selesai. Ngatiyana sekaligus meminta Kepala Dinas Lingkungan Hidup memastikan penyelesaian proyek sesuai target sebelum memasuki masa pensiun.
“Dia juga berharap bantuan dari pemerintah pusat dan pihak pendukung tidak terhenti di tengah jalan, seraya meminta Kepala Dinas Lingkungan Hidup memastikan proyek dituntaskan sebelum memasuki masa pensiun. Pernyataannya tersebut disampaikan dengan nada santai dan disambut tawa para hadirin,” tutup Ngatiyana.









