Infobandungnews – Rumah Aspirasi Imah Rancage yang dikelola oleh tim Rumah Aspirasi Anggota DPR RI Dede Yusuf Macan Effendi kembali menggelar kegiatan inspiratif bertajuk Ngabuburit Edukatif dengan tema “Tantangan Krisis Identitas dan Peneguhan Arah Hidup Generasi Zilenial bagi Pemuda di Kabupaten Bandung.”
Kegiatan tersebut digelar di Aula Macan, Jalan Adipati Ukur No. 16 A, Baleendah, Kabupaten Bandung, Jumat (27/02/2026), mulai pukul 14.30 WIB hingga menjelang waktu berbuka puasa. Puluhan pemuda dari berbagai kecamatan di Kabupaten Bandung hadir mengikuti agenda yang dirancang sebagai ruang refleksi dan penguatan diri bagi generasi muda.
Acara ini bertujuan membekali Generasi Z dan Milenial—yang kerap disebut Zilenial—dengan pemahaman mendalam sekaligus strategi praktis dalam menghadapi fase transisi menuju kedewasaan. Pada rentang usia 20–30 tahun, tidak sedikit anak muda yang diliputi kegelisahan, kebingungan menentukan arah hidup, hingga mempertanyakan masa depan. Fase ini dikenal luas sebagai Quarter Life Crisis.
Hadir sebagai narasumber, Tika Ratna Mayestika, M.Pd., seorang pendidik dan praktisi pengembangan diri, serta Tatan Munandar, S.Pd., M.M., Tenaga Ahli Anggota DPR RI yang memberikan sudut pandang kebijakan publik terkait isu kepemudaan.
Dalam pemaparannya, Tika menjelaskan bahwa Quarter Life Crisis merupakan periode pencarian jati diri ketika seseorang mulai dianggap dewasa dan dituntut mandiri, namun belum sepenuhnya siap secara mental maupun finansial menghadapi tekanan eksternal. Kondisi ini umumnya ditandai dengan rasa bingung menentukan arah setelah lulus kuliah (clueless), sulit mengambil keputusan karena terlalu banyak pilihan (indecisive), merasa putus asa terhadap realitas (hopeless), hingga kecenderungan cemas tanpa aksi nyata.

Untuk membantu peserta keluar dari fase tersebut, Tika membagikan enam langkah praktis sebagai bentuk self-help. Pertama, mengenali dan menerima emosi yang muncul tanpa menekannya demi memenuhi ekspektasi sosial. Kedua, melakukan evaluasi diri dengan menelaah minat, momen paling bermakna, serta nilai hidup yang diyakini. Ketiga, membatasi kebiasaan membandingkan diri melalui media sosial. Keempat, berani mencoba pengalaman baru dengan risiko yang terukur. Kelima, membangun jejaring atau komunitas yang sejalan agar tidak merasa sendiri. Keenam, menyusun target jangka pendek yang realistis selama tiga hingga enam bulan dan melakukan evaluasi rutin.
Sementara itu, Tatan Munandar menekankan pentingnya penguatan identitas diri sebagai fondasi kontribusi pemuda dalam pembangunan daerah. Ia mendorong generasi muda Kabupaten Bandung untuk aktif mengambil peran strategis, serta memanfaatkan dukungan kebijakan dan program pemberdayaan yang difasilitasi berbagai pihak, termasuk legislatif.

Kegiatan berlangsung dinamis dan partisipatif melalui sesi diskusi, tanya jawab, serta berbagi pengalaman antarpeserta. Menjelang berbuka puasa, acara ditutup dengan pesan motivasi bahwa setiap pemuda memiliki proses dan waktunya masing-masing. Dengan langkah kecil yang konsisten serta dukungan lingkungan yang positif, arah hidup dapat semakin jelas dan terarah.
Rumah Aspirasi Imah Rancage berkomitmen untuk terus menjadi ruang dialog, aspirasi, dan edukasi bagi masyarakat, khususnya generasi muda di Kabupaten Bandung, dalam upaya membentuk pribadi yang tangguh, berkarakter, dan siap bersaing.***









