Batik Walk Jadi Ajang Promosi Batik Jawa Barat
Infobandungnews – Yayasan Batik Jawa Barat (YBJB) kembali menggelar Batik Walk sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Road to Jambore Batik 2026. Acara yang berlangsung pada Minggu, 9 Agustus 2026, tersebut diikuti ratusan peserta yang berasal dari berbagai komunitas batik.
Kegiatan ini tidak hanya menghadirkan suasana jalan santai dengan mengenakan busana batik, tetapi juga menjadi wadah untuk memperkenalkan kembali kekayaan dan keberagaman wastra khas Tatar Sunda. Di sisi lain, kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong regenerasi pembatik, khususnya di kalangan generasi muda Jawa Barat.
Pelaksanaan Batik Walk kali ini terasa semakin spesial karena bertepatan dengan peringatan HUT YBJB yang ke-18. Selain mengangkat budaya dan tradisi batik, kegiatan tersebut juga memberikan ruang bagi pelaku ekonomi kreatif dan UMKM untuk memperkenalkan sekaligus memperluas pemasaran produk mereka.
Dorong UMKM Batik Naik Kelas

Ketua Yayasan Batik Jawa Barat, Sendy Dede Yusuf, menilai keterlibatan perajin dan pelaku UMKM lokal menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kapasitas serta daya saing industri kreatif di Jawa Barat.
“Leveling up UMKM juga berarti ya, jadi ada stand bazar juga dari beberapa pengrajin UMKM di sekitar Kota Bandung, Cimahi, Kabupaten Bandung, Bandung Barat, juga mendukung UMKM kuliner. Dan kebetulan Batik Walk ini sudah dilaksanakan yang kedua kali oleh Yayasan Batik Jawa Barat, dan tahun ini juga bertepatan dengan Hari Ulang Tahun Yayasan Batik Jawa Barat ke-18,” ujar Sendy Dede Yusuf di sela-sela kegiatan Batik Walk, Minggu 9 Agustus 2026.
Menurut Sendy, pengembangan batik membutuhkan dukungan dan kolaborasi berbagai pihak. YBJB pun menggandeng Bank Indonesia serta sejumlah dinas terkait untuk memperkuat pemahaman pelaku UMKM terhadap layanan keuangan sekaligus memastikan keberlanjutan regenerasi pembatik di 27 kabupaten/kota Jawa Barat.
“Kita kolaborasi dengan Bank Indonesia supaya para pengrajin UMKM itu juga melek perbankan, bagaimana cara meminjam, bagaimana cara pembayaran menggunakan QRIS. Nanti ada yang menarik lagi, launching batik difabel dari binaan Dekranasda, Dinas Sosial, dan Koperasi. Kita berharap agar batik yang saat ini sudah ada di 27 kota/kabupaten daerah pembatikan di Jawa Barat bisa semakin dikenal lagi oleh masyarakat, baik motif, corak, warna, maupun karakternya, serta terjadi regenerasi pembatik. Kalau orang bilang mencintai batik, cintailah dengan cara mau membeli dari perajinnya dan bangga memakainya,” tuturnya.
Digitalisasi Jadi Kunci Penguatan UMKM
Dukungan terhadap pengembangan UMKM batik melalui digitalisasi juga disampaikan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Barat, Junanto Hendrawan.
Menurutnya, pemanfaatan transaksi non-tunai menjadi salah satu langkah penting dalam meningkatkan efisiensi sekaligus memperkuat daya saing para pelaku usaha batik di tengah perkembangan ekonomi digital.

“Setelah Batik Walk ini tentu memperkenalkan juga bagaimana pembayaran non-tunai, karena pengrajin-pengrajin batik itu juga kita ajarkan bagaimana membayar menggunakan QRIS,”ungkapnya.
Junanto berharap kegiatan Batik Walk dapat semakin mendekatkan batik dengan generasi muda. Selain menjaga warisan budaya, keberadaan UMKM batik juga dinilai memiliki kontribusi terhadap penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi daerah.
“Harapannya tentu menambah kecintaan anak-anak muda terhadap batik, dan tentu ini adalah salah satu sektor pendukung pertumbuhan ekonomi, jadi penyerapan tenaga kerja. Ini yang kita coba dorong agar pertumbuhan ekonomi di Jawa Barat bisa semakin solid dengan adanya UMKM batik,” tegas Junanto Hendrawan.
Batik Didorong Hadir di Sektor Pariwisata
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jawa Barat, Iendra Sofyan, menilai promosi batik perlu diperluas ke berbagai sektor kehidupan masyarakat.
Ia mendorong agar batik dan busana tradisional dapat semakin banyak digunakan dalam sektor pelayanan publik, perhotelan hingga berbagai fasilitas yang menjadi pintu masuk wisatawan ke Jawa Barat.
“Mari kita sama-sama mempromosikan masalah batik. Saya sudah minta ke PHRI sebetulnya, bisa enggak semua pelayannya itu menggunakan batik atau kebaya. Di bandara pun demikian, mudah-mudahan nanti Husein [Sastranegara] bisa kita dorong menggunakan batik,” ujar Iendra Sofyan.
Menurut Iendra, penggunaan batik di berbagai ruang publik bukan hanya menjadi bentuk pelestarian budaya, tetapi juga dapat memperkuat identitas Jawa Barat di mata wisatawan.
Bandara Husein Jadi Peluang Baru UMKM
Iendra juga melihat rencana dibukanya kembali operasional penerbangan di Bandara Husein Sastranegara sebagai kesempatan untuk menggerakkan kembali sektor pariwisata sekaligus membuka pasar baru bagi produk UMKM lokal.
“Mudah-mudahan nanti Husein dibuka tanggal 14 Agustus sehingga bisa mendatangkan lagi pariwisata. Tentunya UMKM juga harus lebih siap lagi menjual batik dan produk-produknya di Husein, paling tidak supaya bisa lebih terkenal lagi dan memberikan dampak ekonominya,” pungkasnya.

Menuju Jambore Batik 2026
Kolaborasi antara komunitas batik, pemerintah daerah, Bank Indonesia, serta para pelaku UMKM diharapkan mampu memberikan dampak yang lebih luas terhadap perkembangan industri batik di Jawa Barat.
Lebih dari sekadar perhelatan budaya, Batik Walk diharapkan menjadi momentum untuk memperluas promosi wastra lokal, memperkuat ekonomi kreatif, meningkatkan kapasitas UMKM, sekaligus menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap batik.
Kegiatan ini pun menjadi salah satu langkah menuju puncak rangkaian Jambore Batik 2026, dengan harapan batik Jawa Barat semakin dikenal, dicintai, digunakan, dan memiliki daya saing yang lebih kuat di tingkat nasional maupun global. ***









