Infobandungnews – Kolaborasi Magdara dan Perajin Tenun Majalaya Dorong Pelestarian Wastra Jawa Barat
KABUPATEN BANDUNG – Kekayaan wastra Nusantara terus mendapat ruang dalam industri fesyen nasional. Salah satunya melalui kolaborasi Magdara – Unique and Exclusive Muslim Fashion dengan para perajin Tenun Majalaya, Kabupaten Bandung, yang menghadirkan koleksi busana muslim berbahan tenun lokal sebagai upaya melestarikan sekaligus meningkatkan daya saing produk tradisional.
Indonesia dikenal memiliki beragam kain tenun yang tersebar di berbagai daerah. Setiap provinsi memiliki motif dan karakteristik tersendiri yang menjadi warisan budaya sekaligus mencerminkan identitas masyarakat setempat.
Desainer Magdara, Mutiara Adi Putri, mengatakan dunia fesyen muslim saat ini menuntut para perancang untuk terus berinovasi tanpa meninggalkan nilai budaya. Karena itu, ia memilih mengangkat kain tenun sebagai material utama dalam koleksi busana muslim yang dirancangnya.
Koleksi hasil kolaborasi Magdara bersama Tenun Majalaya dijadwalkan tampil pada 4 Desember 2022 di Bandung. Kegiatan tersebut merupakan hasil kerja sama dengan Dekranasda Jawa Barat dan Islamic Fashion Institute (IFI) yang melibatkan para perajin Tenun Majalaya serta berbagai pengrajin tenun lainnya dari Jawa Barat.
Saat mengunjungi salah satu pabrik tenun di Majalaya pada Selasa (22/11/2022), Mutiara mengungkapkan bahwa selama ini koleksi rancangannya memang belum banyak menggunakan kain tenun. Namun kali ini ia sengaja memilih Tenun Majalaya sebagai bentuk dukungan terhadap para pengrajin lokal.
“Desain busana saya selama ini jarang menggunakan tenun. Kali ini saya memilih tenun khas Majalaya, selain untuk membantu para perajin dalam meningkatkan daya saing dan juga kualitas produk, serta melestarikan tenun Jawa Barat sebagai kekayaan indikasi geografis di wilayah sentra tenun Jawa Barat,” ujarnya.
Dorong Inovasi Tanpa Meninggalkan Identitas Daerah
Menurut Mutiara, kegiatan menenun merupakan warisan budaya yang masih dipertahankan oleh masyarakat di berbagai daerah. Karena itu, keberadaan para pelaku usaha dan pengrajin yang tetap konsisten menjaga tradisi lokal perlu mendapatkan dukungan dari berbagai pihak.
Ia menjelaskan, Magdara berupaya mengembangkan motif khas Majalaya melalui pendekatan desain yang lebih modern tanpa menghilangkan ciri khas dan pakem tenun yang telah diwariskan secara turun-temurun.
“Menenun merupakan pekerjaan warisan dari leluhur yang masih ditekuni sebagian masyarakat daerah. Di daerah tiap-tiap daerah juga ada sosok penggiat usaha yang peduli terhadap konten lokalnya,” katanya.
Mutiara berharap kolaborasi tersebut mampu melahirkan motif-motif khas Majalaya yang memiliki identitas kuat dan mampu bersaing dengan berbagai kain wastra dari daerah lain di Indonesia. Selain memperluas pasar, inovasi tersebut juga diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan para perajin tenun di Kabupaten Bandung.
“Magdara mengembangkan motif khas Majalaya buatan para perajin, dan kami mendukung para perajin untuk terus berinovasi dengan berkolaborasi menggunakan motif Majalaya yang kami kembangkan tanpa meninggalkan pakem yang ada. Dengan demikian Majalaya akan memiliki motif yang khas yang memiliki daya saing dibanding dengan kain wastra lain yang ada di Indonesia dan para perajin bisa lebih sejahtera,” tutupnya.









